Tanggap Bencana Sejak Dini

foto anak-anak sedang mendengarkan sosialisasi tanggap bencanaSepanjang tahun 2016 ini, kondisi alam di Indonesia memang sering kali mengalami becana. Hal itu ditandai dengan terjadinya gempa bumi pada beberapa daerah di Indonesia. Kejadian yang meningkatkan kecemasan dan kekuatiran akhir-akhir ini yaitu terjadinya erupsi gunung Sinabung di Sumatera Utara. Hawa panas dan debu yang dikeluarkan oleh mulut gunung menjadi tanda bahwa gunung api akan segera meletus. Berbekal dari pengalaman terakhir meletusnya gunung api Merapi pada tahun 2010 di Yogyakarta. Menjadi fokus penting, bahwa banyaknya korban dari dampak bencana letusan Gunung Merapi diduga terjadi karena kurangnya edukasi mengenai masyarakat tanggap terhadap bencana.

Bencana alam memang tidak dapat dihindari. Sepertihalnya sebuah takdir kejadiannya dapat datang sewaktu-waktu. Mengantisipasi merupakan tindakan yang tepat. Edukasi mengenai tanggap bencana menjadi sarana untuk meningkatkan pengetahuan harus bagaimana ketika tengah terjadi bencana alam.

Anak-anak sebagai salah satu masyarakat yang berisiko tinggi terhadap bencana menjadi fokus penting dalam pemberian edukasi mengenai tanggap bencana, terutama bencana gunung meletus. Pembekalan pengetahuan pada anak-anak Yogyakarta, disebabkan oleh di Yogyakarta sendiri terdapat gunung api yang aktif yang sewaktu-waktu dapat menunjukkan aksinya. Jika kembali melihat pada enam tahun yang lalu, masih dangat terasa kesakitan dan penderitaan pada waktu itu. Korban yang berjatuhan juga tidak main-main, ratusan manusia juga harus menemui ajalnya dan sebagian besar luka-luka, bahkan kehilangan kewarasannya.

Tidak ada salahnya sejak dini, sebagai masyarakat yang tinggal di kaki gunung Merapi. Anak-anak dibekali dan difasilitasi oleh sekolah tentang sosialisasi tanggap bencana. Anak-anak dituntut untuk lebih mandiri jika terjadi bencana, karena hal itu juga mampu mengurangi tingkat kepanikan dari anak-anak sebagai masyarakat yang berisiko tinggi. Waspada, merupakan kata yang tepat, melihat kejadian yang baru-baru ini di Sumatera Utara menjadi teguran untuk masyarakat Yogyakarta lebih tanggap bencana.

Menurut keterangan dari Guru Penjas SDN Kaliurang 1 bahwa, bencana letusan gunung Merapi yang terjadi pada tahun 2010 sempat terjadi kesimpangsiuran informasi di daerah Kaliurang. Sehingga hal itu juga mempengaruhi keselamatan bagi anak-anak yang tinggal di kaki gunung Merapi.  Tidak tanggung-tanggung, SDN Kaliurang 1, mengadakan sosialisasi tanggap bencana kepada anak-anak didiknya. Sebagai bentuk tanggungjawab yang harus sekolah berikan sebagai lembaga pendidikan.

sosialisasi mengenai edukasi tanggap bencana memang penting untuk dilakukan dengan anak-anak, hal itu karena sebelumnya belum dilakukannya sosialisasi anak-anak masih kebingungan untuk tanggap bencana” ujar Guru Penjas SDN Kaliurang 1, Heru (8/6). Pernyataan dari guru tersebut menjadi alasan yang kuat akan diadakannya sebuah sosialisasi untuk edukasi tanggap bencana kepada anak-anak. (ws)

winasri marito simanjuntak

130905158

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s