Anak Berkebutuhan Khusus yang Berkemampuan Khusus

Masa kanak-kanak adalah masa-masa yang sangat menyenangkan. Pada masa ini anak sedang senang-senangnya bermain dan mencoba segala sesuatu yang ingin ia ketahui, rasa ingin tahu akan segala sesuatu pada masa ini sangat kuat di dalam diri anak. Di masa ini juga anak bisa bermain dan berinterkasi sepuasnya dengan sesamanya. Namun sayangnya, ternyata tidak semua anak bisa menikmati masa-masa ini. Misalnya adalah anak-anak yang termasuk dalam kategori anak berkebutuhan khusus.

karawitan 2.jpg

Anak autis merupakan salah satu tipikal anak yang masuk dalam kategori anak berkebutuhan khusus. Yang dikategorikan sebagai anak autis adalah anak yang hanya memiliki perhatian terhadap dunianya sendiri. Maka dari itu, anak autis tidak dengan begitu mudahnya bisa melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan oleh anak kebanyakan. Mereka cenderung malah asik dengan dunianya sendiri dan sulit untuk melakukan interaksi dengan keadaan sekitarnya.

Sekolah Khusus Autis Bina Anggita adalah salah satu lembaga pendidikan yang ada di Yogyakarta yang concern dengan pendidikan bagi anak-anak autis. Hampir sama dengan sekolah untuk anak berkebutuhan khusus lainnya, Bina Anggita juga ini menawarkan beberapa jenis terapi untuk anak-anak autis, salah satu terapi yang ditawarkan adalah terapi musik yang dilakukan dengan permainan alat musik drum band dan karawitan.

Bicara tentang dum band dan karawitan, tentunya permainan musik ini sudah tak asing lagi bagi kita. Kesamaan dari dua permainan musik itu adalah permainan musik sama-sama dilakukan dengan banyak orang dan hasil dari permainan musik adalah menghasilkan nada-nada dan ketukan-ketukan tempo yang indah dan sesuai.

Bagi anak kebanyakan, mungkin melakukan permainan drum band dan karawitan bukanlah menjadi hal yang sulit, tapi bagaimana halnya jika permainan drum band dilakukan oleh anak-anak autis? Tentunya tidak semudah yang dibayangkan. Karena seperti yang sudah dikatakan sebelumnya jika anak autis memiliki gangguan dalam konsentrasinya dan hanya asik dengan dunianya sendiri.

Begitu pula yang terjadi dengan anak-anak autis yang bersekolah di Bina Anggita. Menurut Pak Kantri, salah satu pengajar di Bina Anggita, permainan drum band dan karawitan ini diberikan kepada siswa dengan beberapa tujuan, diantaranya adalah untuk melatih syaraf motorik dan konsentrasi pada anak, terkhusus dalam pola-pola memukul, tempo, dan konsistensi dalam melakukan pukulan kepada alat musik, juga untuk melatih jiwa bermusik yang dimiliki anak dan juga melatih anak agar mereka bisa bersosialisasi dengan sesamanya mengingat permainan drum band dan karawitan yang dilakukan oleh banyak orang.

Permainan drum band diberikan kepada siswa setiap hari Sabtu dengan lama waktu sekitar satu setengah jam dan dipandu dengan Pak Bayu, pelatih drum band di Bina Anggita, anak-anak autis pun dengan sabar diajarkan untuk memainkan beberapa lagu. Lagu-lagu tersebut diantaranya adalah lagu P_20150530_080247.jpgBecak, Hari Kemerdekaan (17 Agustus 1945), dan Suwe Ora Jamu. Dalam latihan bermain drum band itu tampak seorang anak laki-laki sebagai pemain belira (musik) cukup mahir dalam memainkan nada-nada dari lagu-lagu tersebut dan diikuti oleh teman-temannya sebagai pemain bas, simbal, tenor dan senar drum yang juga kompak namun terkadang juga terkesan semaunya semakin membuat permainan drum band menjadi menyenangkan. Hampir sama dengan drum band, permainan karawitan berlangsung setiap Selasa selama satu jam, dan khusus untuk permainan musik karawitan, tidak semua anak diwajibkan untuk memainkan alat musik ini. Siswa kelas besarlah yang diwajibkan untuk memainkan permainan musik ini, sedangkan untuk siswa kelas kecil cukup duduk dan memperhatikan permainan kakak kelas mereka saja. “Mengajari anak-anak autis bermain musik bukanlah menjadi suatu hal yang mudah mengingat kondisi tiap anak yang berbeda-beda, namun akan menjadi menyenangkan ketika memang anak mampu memahami apa yang kita maksud dan memainkan nada dan pukulan alat musik sesuai dengan lagu aslinya meskipun hanya sebentar.” kata Pak Bayu disela-sela ia mengajari anak-anak bermain drum band.

Namun, siapa sangka pula, yang permainan musik yang semula hanya diberikan sebagai terapi  untuk anak autis, ternyata bisa membuat siswa autis di Bina Anggita ini mendapatkan apresiasi lebih dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI). Ya. Karawitan, salah satu terapi musik bagi siswa autis ini mendapatkan penghargaan khusus dari MURI. Tepatnya pada tahun 2013 lalu, Sekolah Khusus Autis Bina Anggita mendapatkan penghargaan dari MURI atas pagelaran karawitan yang diselenggarakannya dengan pemain musiknya adalah siswa penyandang autis. Kerja keras dari siswa autis Bina Anggita untuk melatih konsentrasi ternyata bisa berbuah lebih menjadi kemampuan khusus yang menoreh prestasi. (aw)

Agata Wahyu

130905045

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s