Bagaimana Anak-anak di Jerman Memanfaatkan Waktu Luang?

Perjalanan saya menuju Eropa bersama beberapa rekan dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, membuahkan banyak inspirasi bagi saya. Tujuan utama saya adalah sebuah kota kecil di Jerman bagian tengah. Daerah tersebut bernama Ilmenau. Daerah ini masuk ke dalam provinsi Thüringen.
Selain berkuliah, kami juga memiliki waktu untuk beristirahat di sela-sela hari libur. Banyak hal baru yang saya amati, terlebih mengenai bagaimana kebiasaan orang-orang disana menikmati hari libur. Pada hari Sabtu, hanya terdapat beberapa toko saja yang masih melayani pembeli. Biasanya berupa supermarket. Sekelas mini market biasanya tidak membuka gerainya. Hari Minggu merupakan hari dimana pertokoan justru libur. Kebanyakan masyarakat yang tinggal di Ilmenau membeli barang-barang pada hari Sabtu dan Jumat malam. Lalu apa yang mereka lakukan pada hari libur?

Ilmenau merupakan sebuah kota yang banyak dijumpai mahasiswa. Beberapa dari mahasiswa biasanya pulang ke kota masing-masing. Lalu bagaimana dengan mereka yang telah berkeluarga? Tentunya mereka menghabiskan waktu bersama keluarga.

Saya melihat, begitu beragam cara orang-orang di Jerman mendidik anak mereka. Meskipun Jerman terkenal dengan kecanggihan teknologinya, namun tidak semata-mata hal itu membuat para penduduknya mudah beradaptasi dan menggunakan berbagai teknologi yang canggih untuk menunjang kehidupan mereka. Para orang tua lebih senang mengajak anak-anak mereka untuk melakukan aktivitas di luar rumah untuk memanfaatkan waktu luang (leisure time).

Thüringen memang terkenal daerah yang masih asri sehingga disana banyak terdapat ruang terbuka. Banyak terdapat taman-taman sebagai arena bermain. Selain taman, para orang tua juga mengajak anak mereka untuk mendaki perbukitan. Bukit tersebut dinamai Kickelhand. Di bukit tersebut, biasanya orang tua bersama anak-anak mereka menyempatkan diri untuk mendaki. Saya menemui bahkan terdapat beberapa anak balita yang telah dilatih oleh orang tua mereka untuk berjalan jauh. Selain itu, beberapa diantaranya menghabiskan waktu untuk bersepeda. Saya tertarik untuk mengamati bagaimana orang-orang disini sangat senang betul melakukan kegiatan di luar ruangan. Untuk itu, secara khusus saya melakukan wawancara dengan seorang dosen metodologi di Technische Universität Ilmenau.

Beliau bernama Mira Rohyadi Reetz atau lebih akrab disapa Mira. Beliau sudah 7 tahun bekerja di Jerman. Mira berkewarganegaraan Indonesia tetapi bekerja dan menetap di Jerman selama beberapa waktu. Suaminya berkewarganegaraan Jerman dan saat ini telah dikaruniai seorang anak bernama Michael. Mira bersama suami mendidik Michael dengan dua budaya yakni Indonesia dengan Jerman. Hal ini tentu menarik untuk dipahami.
Michael merupakan seorang anak berusia 3.5 tahun. Michael fasih berbahasa Jerman dan Indonesia. Uniknya, dengan Ibunya Michael lebih dominan berbahasa Indonesia sementara dengan ayahnya, berbahasa Jerman. Itu seperti sudah otomatis terucap begitu saja. Saat ini bersekolah di sebuah kelompok bermain yang letaknya cukup jauh dari tempat Mira mengajar yakni di Technische Universität Ilmenau. Rutinitas kesehariannya, Michael diantar ke sekolah pada pukul 8 pagi. Kemudian dijemput kembali pada jam 4 sore. Tidak hanya untuk belajar, sekolah menawarkan berbagai aktivitas lain. Disana Michael diberi pendampingan khusus, seperti ada waktu tidur siang dan makan. Aktivitas justru dilakukan dengan juga melibatkan anak-anak lain, sehingga tidak terlalu manja dan ketergantungan dengan orang tua. Setelah pulang sekolah, biasanya Mira atau suaminya datang untuk menjemput Michael. Setelah dijemput, Michael diajak untuk melakukan banyak kegiatan di luar rumah.

SONY DSC

Michael sangat suka beraktivitas di luar rumah seperti bersepeda dan bermain di kotak pasir. Baik Mira maupun suaminya memang tidak mendidik Michael untuk ketergantungan dengan gadget. Sesekali Michael memang diberi suguhan film anak-anak seperti Thomas tetapi lebih dominan untuk melakukan aktivitas bermain tetapi tanpa melibatkan gadget yang berlebihan. Michael nyaman bermain dengan kedua orang tuanya dan menghabiskan waktu bersama. Bermain dengan melibatkan kedua orang tua, justru menambah kedekatan antara anak dengan orang tua. Belajar dari pengalaman Mira mendidik anaknya, hal ini dapat menjadi rekomendasi bagi para orang tua untuk mendidik dan mengarahkan anak-anak memanfaatkan waktu luang. (Agnes)

SONY DSC

 

Agnes Friska Cyntia (130905002)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s