Bersekolah di Alam bersama Sanggar Anak Alam

Bersekolah sebenarnya merupakan suatu kewajiban kita untuk mendapatkan pengetahuan, ilmu, dan belajar secara formal. Belajar pun sebenarnya juga bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja kita mau bahkan dengan model yang seperti apa kita suka. Belajar juga tidak melulu harus duduk tegang, memikirkan banyak teori, terpaku oleh waktu-waktu tertentu tetapi belajar adalah suatu kegiatan yang bebas dilakukan.

Di Yogyakarta, tepatnya di daerah Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Berdirilah sebuah komunitas bernama Sanggar Anak Alam yang bergerak di bidang pendidikan. Sanggar ini pertama kalinya berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian pada tahun 2000, Sanggar Anak Alam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Berdirinya Sanggar Anak Alam ini dibantu oleh beberapa relawan agar sanggar ini dapat disesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. SALAM berdiri untuk mengadakan pendampingan belajar bagi anak-anak usia sekolah. Berbagai kegiatan yang dilakukan di SALAM terdiri dari beberapa program seperti program lingkungan hidup, berternak, mendaur ulang kertas, kegiatan seni dan budaya berupa tetater, musik, dan tari dan berbagai kegiatan lainnya.


SALAM sekarang ini mempunyai sekitar 150 anak didik yang belajar di sana. Biaya yang dikeluarkan dari para anak didik berdasarkan kesepakatan antara orang tua anak didik. Pola pembayaran ini rutin dilakukan setiap bulannya sehingga mereka rutin melakukan rembugan untuk membahas berbagai hal berkaitan dengan pendidikan. Di SALAM, para anak didik didampingi oleh para fasilitator dari luar yang berperan sebagai guru mereka. Anak-anak SALAM didampingi untuk riset sehingga mereka terlatih secara mandiri untuk melakukan pembelajaran dan penelitian di alam. Dengan suasana sekolah yang berada di tengah sawah inilah, anak-anak SALAM benar-benar didekatkan secara langsung dengan alam. Potensi dari setiap murid di SALAM diperdalam oleh para fasilitator, mereka merasa lebih senang, bebas, dan asyik belajar di SALAM.

Beberapa anak didik SALAM mengakui bahwa, bersekolah di SALAM itu sangat mengasyikan, tidak perlu menggunakan seragam sekolah, tidak menggunakan sepatu alias tanpa alas kaki pun diperbolehkan. Bagi mereka, bersekolah di SALAM jauh lebih menyenangkan daripada sekolah formal. Walaupun sekolah ini termasuk sekolah informal, namun sekolah ini juga memberikan pendidikan formal yang mendidik anak-anaknya dari Playgroup hingga SMP. Dalam satu kelas terdapat 15 siswa-siswi yang juga dapat mengikuti ujian kesetaraan seperti sekolah-sekolah formal lainnya sehingga mereka juga mendapatkan ijazah.


Elisabeth Novita Putri

130904859

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s