Kenalkan Cerita Pewayangan Sejak Dini, Investasi Pelestarian Budaya Untuk Masa Depan

Oleh: Elan Priananda (130904957)

IMG_9428

Mengenalkan anak pada kebudayaan merupakan tindakan bijaksana yang dapat dilakukan semenjak dini. Para orangtua memegang peranan penting untuk bisa menjadikan anak memiliki pemikiran tentang bagaimana dia menjadi seorang agen kesenian untuk bisa melestarikan kebudayaan. Sejak kecil seorang anak dapat diberikan cerita yang akan membekas dalam benaknya dan mengakar sehingga dasar keinginannya bisa sangat kuat.

Lampu-lampu menggantung di langit-langit. Joglo sederhana didominasi cahaya berwarna kuning keemasan menciptakan suasana hangat. Jajaran alat musik yang tersusun rapi dimainkan dengan teratur dan menyejukkan hati. Melengkapi seorang bintang cilik yang menyajikan tontonan menakjubkan. Bercerita dengan runtut seolah menyihir para penonton yang hadir.

Layar putih yang dibentangkan menjadi pusat perhatian. Sorotan sinar lampu menciptakan siluet berbentuk tokoh-tokoh yang seolah hidup. Gerakan tangan yang lincah dari Ebenhezer Wahyu Armanto menjadikan penceritaan wayang sangat menajubkan. Tak disangka pada umur yang baru menginjak 11 tahun, dia mampu membuat semua penonton kagum melihat aksinya.

IMG_9436

Cerita yang disampaikan lugas. Sama sekali tak terlihat kerepotan dalam aksinya mengisahkan cerita. Memaksimalkan beberapa wayang yang ditancapkan, mengusai microphone untuk menggelagarkan suaranya, dan tak lupa beberapa kali ketukan dari cempala (pemukul kayu) membunyikan kotak kayu yang ada di samping kirinya. Tak lupa pula nyayian para sinden diiringi kekompakan pemain alat musik karawitan yang memecahkan suasana.

Saat ini, masa kanak-kanak dapat diakatakan menggiurkan dengan segala kecanggihan teknologi yang telah ada. Pola pikir berubah, diikuti pula dengan perilaku yang berubah seiring dengan berkembangnya zaman. Si Pitung, Saras 008, berubah menjadi Iron Man dan Spiderman. Sudah jarang terdengar lagu-lagu Lihat Kebunku, Padamu Negeri, yang sering dinyanyikan justru lagu-lagu Geboy Mujair dan Kucing Garong. Apalagi …gundul-gundul pacul, cul gembelengan. Sudah sangat jarang. Lantas, bagaimana nasib seni pertunjukan dan tembang-tembang tradisional ini?

“BLAS. Aku malah nggak seneng, kalau sama Spiderman” ucap Eben. Di usia mudanya tersebut, ia sudah sangat lugas dalam memainkan wayang. Bagaimana tidak?  Sejak masih berusia 2 tahun, Eben telah dikenalkan dengan seni pertunjukan boneka Jawa ini. Memiliki orangtua yang sudah menyukai dunia wayang dan sering mendongengkan cerita-cerita tradisional menjadi alasan terbesar yang melandasi kesukaan Eben terhadap wayang, khususnya Wayang Kulit.

Berikut kesempatan saya melakukan wawancara dengan Eben bersama Lourentia Kinasih dalam acara pertunjukkan dalang muda di Dinas Kebudayaan Provinsi Yogyakarta.

Dari begitu banyaknya cerita wayang, Eben paling menyukai cerita Jabang Tetuko yang menceritakan tentang kelahiran satu tokoh besar dalam dunia wayang yaitu Gatotkaca. Meskipun begitu, yang menjadi tokoh favorit Eben bukanlah Gatotkaca. Eben jatuh cinta pada tokoh Kapi Menda yang merupakan tokoh kera berkepala kambing yang ada dalam salah satu serial Ramayana. Ia menyukai tokoh ini karena wataknya yang jujur, setia dan sangat patuh.

Sebagai seorang anak yang baru duduk di kelas 5 SD Pangudi Luhur Yogyakarta, prestasi Eben tidak perlu diragukan lagi. Berbagai kompetisi baik tingkat kota ataupun nasional sudah dilahapnya. Ia mengaku bahwa sudah lebih dari sepuluh kali menjuarai perlombaan Dalang Anak. Diantaranya Juara 2 Lomba Dalang Anak Nasional yang diadakan di UNY tahun 2014 dan Juara 3 Lomba PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) di tahun yang sama, juara 2 Festival Dalang Anak dan Remaja di Tembi pada tahun 2015, hingga ikut serta dalam Pentas Etika Budaya. Eben sudah sering pentas dan menjadi dalang baik di dalam maupun luar kota Yogyakarta, seperti Gunung Kidul dan Sragen. Bahkan Eben pernah berpartisipasi dalam salah satu acara televisi Si Bolang.

Anak-anak tentu banyak melakukan hal yang merupakan hasil didikan dan memberikan pemahaman lebih. Kunci keberhasilan tentu dipegang oleh orang tua. Sosok seorang Eben tentu dapat memberikan banyak inspirasi bagi anak-anak lain dan juga menjadi bukti bagi orangtua bahwa pendidikan bagi anak merupakan tanggungjawab orangtua.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s