Persiapan Untuk Acara Hari Pendidikan Nasional

Save Street Child Jogja (SSCJ) sebagai komunitas peduli anak di situasi jalanan mengadakan serangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada Senin, 2 Mei 2016. Bagi SSCJ pendidikan untuk anak di situasi jalanan masih kurang diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah. Apalagi persoalan tentang biaya sekolah.

Tepat pada Hari Pendidikan Nasional, SSCJ telah melakukan aksi yang dilakukan di kawasan Tugu Yogyakarta pada pukul 15.40 WIB sampai 17.30 WIB. Aksi dilakukan dengan membagikan selebaran kertas kepada pengendara yang sedang melintas di kawasan Tugu. Selebaran tersebut menjelaskan tentang susahnya anak di situasi jalanan dalam memperoleh pendidikan. Beberapa volunteer juga membentangkan spanduk bertuliskan, berikan akses pendidikan untuk anak di situasi jalanan, tepat di samping Tugu Yogyakarta.

Pendidikan untuk anak situasi jalanan tidak bisa mendapatkan pendidikan karena mereka tidak memiliki identitas. Pemerintah pun hingga saat ini belum memiliki akses pembuatan identitas yang cukup ramah terhadap mereka. “Mereka juga nggak bisa sekolah karena kepentok masalah ekonomi”, tutur Riezky (21) selaku volunteer SSCJ (2/5).

Selain melakukan aksi di Tugu Jogja, SSCJ juga mengadakan acar pada Sabtu, 21 Mei 2016 dengan tujuan yang sama. Bedanya, anak-anak di situasi jalanan yang diampu oleh SSCJ baik dari Badran maupun dari Tegalmojo, mereka diikut sertakan untuk lomba dalam rangkaian acara tersebut. Lomba-lomba itu diantaranya adalah lomba tari, menyanyi, baca puisi, serta menggambar dan mewarnai.

Persiapan lomba-lomba tersebut telah dipersiapkan selama kurang lebih satu bulan sebelum tanggal 21 Mei 2016. Biasanya volunteer SSCJ yang masuk dalam divisi edukasi akan melatih anak-anak setelah proses pembelajaran rutin. Pembelajaran rutin untuk kelas di Tegalmojo dilakukan setiap hari Rabu, seminggu sekali. Terdapat lebih dari 20 anak yang mengikuti kelas. Kelas dilakukan di salah satu rumah warga yang merelakan rumahnya sebagai tempat belajar mengajar. Sedangkan untuk pembelajaran rutin di Badran, biasa dilakukan setiap Jumat satu minggu sekali. Anak-anak yang mengikuti belajar mengajar di Badran tidak terlalu banyak seperti di Tegalmojo, sekitar 6 hingga 8 orang. Sama seperti di Tegalmojo, proses mengajar juga dilakukan di salah satu rumah warga yang menyediakan tempat untuk belajar.

Sebelumnya anak-anak sudah dibagi kelompok untuk masuk lomba mana saja yang diminati. Barulah volunteer SSCJ yang tergabung dalam divisi edukasi memberi pelatihan menyanyi, menari, menggambar, dan sebagainya. Mereka juga membentuk jadwal di luar hari pembelajaran rutin untuk memaksimalkan penampilan anak-anak.

Awalnya anak-anak malu untuk latihan, namun beberapa justru menunjukkan antusias mereka berlatih. Beberapa volunteer SSCJ sempat kewalahan karena anak-anak malu untuk menunjukkan bakat mereka. “Kita harus pinter-pinternya membangun semanga mereka agar percaya diri saat lomba besok”, Rizky (13/5).

Tujuan adanya acara tersebut untuk menunjukkan bakat anak-anak yang dalam kondisi kurang mampu tapi masih bisa berprestasi. Walau dihimpit ekonomi, tetapi mereka tidak malas belajar. Mereka juga menginginkan teman-teman yang ada di situasi jalanan bisa mendapat hak pendidikan. (kim)

Untitled.jpg

Suasana Belajar Mengajar

Kusuma Ina Mardhika

130905040

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s