Persiapan Untuk Acara Hari Pendidikan Nasional

Save Street Child Jogja (SSCJ) sebagai komunitas peduli anak di situasi jalanan mengadakan serangkaian kegiatan untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional yang jatuh pada Senin, 2 Mei 2016. Bagi SSCJ pendidikan untuk anak di situasi jalanan masih kurang diperhatikan oleh masyarakat dan pemerintah. Apalagi persoalan tentang biaya sekolah.

Tepat pada Hari Pendidikan Nasional, SSCJ telah melakukan aksi yang dilakukan di kawasan Tugu Yogyakarta pada pukul 15.40 WIB sampai 17.30 WIB. Aksi dilakukan dengan membagikan selebaran kertas kepada pengendara yang sedang melintas di kawasan Tugu. Selebaran tersebut menjelaskan tentang susahnya anak di situasi jalanan dalam memperoleh pendidikan. Beberapa volunteer juga membentangkan spanduk bertuliskan, berikan akses pendidikan untuk anak di situasi jalanan, tepat di samping Tugu Yogyakarta.

Pendidikan untuk anak situasi jalanan tidak bisa mendapatkan pendidikan karena mereka tidak memiliki identitas. Pemerintah pun hingga saat ini belum memiliki akses pembuatan identitas yang cukup ramah terhadap mereka. “Mereka juga nggak bisa sekolah karena kepentok masalah ekonomi”, tutur Riezky (21) selaku volunteer SSCJ (2/5).

Selain melakukan aksi di Tugu Jogja, SSCJ juga mengadakan acar pada Sabtu, 21 Mei 2016 dengan tujuan yang sama. Bedanya, anak-anak di situasi jalanan yang diampu oleh SSCJ baik dari Badran maupun dari Tegalmojo, mereka diikut sertakan untuk lomba dalam rangkaian acara tersebut. Lomba-lomba itu diantaranya adalah lomba tari, menyanyi, baca puisi, serta menggambar dan mewarnai.

Persiapan lomba-lomba tersebut telah dipersiapkan selama kurang lebih satu bulan sebelum tanggal 21 Mei 2016. Biasanya volunteer SSCJ yang masuk dalam divisi edukasi akan melatih anak-anak setelah proses pembelajaran rutin. Pembelajaran rutin untuk kelas di Tegalmojo dilakukan setiap hari Rabu, seminggu sekali. Terdapat lebih dari 20 anak yang mengikuti kelas. Kelas dilakukan di salah satu rumah warga yang merelakan rumahnya sebagai tempat belajar mengajar. Sedangkan untuk pembelajaran rutin di Badran, biasa dilakukan setiap Jumat satu minggu sekali. Anak-anak yang mengikuti belajar mengajar di Badran tidak terlalu banyak seperti di Tegalmojo, sekitar 6 hingga 8 orang. Sama seperti di Tegalmojo, proses mengajar juga dilakukan di salah satu rumah warga yang menyediakan tempat untuk belajar.

Sebelumnya anak-anak sudah dibagi kelompok untuk masuk lomba mana saja yang diminati. Barulah volunteer SSCJ yang tergabung dalam divisi edukasi memberi pelatihan menyanyi, menari, menggambar, dan sebagainya. Mereka juga membentuk jadwal di luar hari pembelajaran rutin untuk memaksimalkan penampilan anak-anak.

Awalnya anak-anak malu untuk latihan, namun beberapa justru menunjukkan antusias mereka berlatih. Beberapa volunteer SSCJ sempat kewalahan karena anak-anak malu untuk menunjukkan bakat mereka. “Kita harus pinter-pinternya membangun semanga mereka agar percaya diri saat lomba besok”, Rizky (13/5).

Tujuan adanya acara tersebut untuk menunjukkan bakat anak-anak yang dalam kondisi kurang mampu tapi masih bisa berprestasi. Walau dihimpit ekonomi, tetapi mereka tidak malas belajar. Mereka juga menginginkan teman-teman yang ada di situasi jalanan bisa mendapat hak pendidikan. (kim)

Untitled.jpg

Suasana Belajar Mengajar

Kusuma Ina Mardhika

130905040

Pendidikan Karakter Anak di Usia Dini

Dalam membentuk karakter anak yang berkualitas perlu dibina sejak usia dini. Potensi karakter yang baik sebenarnya telah dimiliki oleh setiap manusia sebelum dilahirkan, tetapi potensi tersebut harus terus-menerus dibina dan digali melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Usia dini merupakan masa kritis bagi pembentukan karakter seseorang. Banyak yang mengatakan bahwa kegagalan penanaman karakter sejak usia dini, akan membentuk pribadi yang bermasalah dimasa dewasanya kelak. Selain itu, menanamkan moral kepada generasi muda adalah usaha yang strategis. Oleh karena itu penanaman moral melalui pendidikan karakter sedini mungkin kepada anak-anak adalah kunci utama untuk membangun bangsa.

Pendidikan merupakan salah satu wadah dalam menunjang pembentukan karakter tiap individu. Pendidikan karakter merupakan gerakan nasional untuk menciptakan sekolah yang membina generasi muda yang beretika, bertanggung jawab, dan perduli melalui pemodelan dan mengajarkan karakter baik dengan penekanan pada nilai universal yang disepakati bersama. Ini adalah suatu usaha yang disengaja dan proaktif baik dari sekolah, daerah, dan juga negara untuk menanamkan siswanya pada nilai etika utama.

 

Pamungkas Kusuma Sakti / 120904787

Pentingnya Pendidikan Seks bagi Anak Usia Dini

Maraknya pemberitaan mengenai pelecehan seksual yang dilakukan oknum tertentu kepada anak dibawah umur membuat sebagaian orangtua menjadi cemas. Media, khususnya televisi sebagai media informasi dianggap menjadi sebuah tempat yang menakutkan bagi anak-anak yang menontonnya. Orangtua juga berperan dalam mendampingi anak-anak nya dalam memilih acara televisi yang akan ia tonton. Anak-anak SD di jaman sekarang sudah mulai mengerti dan mengkonsumsi berita di televisi. Terdapat sisi positif dan negatif pada hal tersebut. Sisi positif nya, anak-anak dapat mengetahui sebuah informasi agar mereka bisa mewaspadai terhadap lingkungan sekitar mereka, sisi negatif nya adalah anak-anak menjadi takut akan lingkungan sekitar karena pemberitaan di televisi.

Orangtua tentu saja menjadi panutan pertama dan utama dari anak-anak. Secara sederhana, jika orangtua berbuat jelek, maka anaknya tidak akan jauh berbeda tingkahnya. Peran orangtua penting untuk mengajarkan, memberitahu dan mengedukasi anaknya dalam tahap awal. Orangtua berperan penting untuk mengajarkan apa yang tidak atau belum didapat di sekolah dan lingkungan.

Meningkatnya kasus kekerasan seksual merupakan bukti nyata kurangnya pengetahuan anak mengenai pendidikan seks yang seharusnya sudah mereka peroleh dari tahun pertama oleh orangtuanya. Tetapi persepsi masyarakat mengenai pendidikan seks yang masih menganggap tabu untuk dibicarakan bersama anak menjadi sebab yang harus dibenahi bersama untuk membekali anak melawan arus globalisasi yang semakin transparan dalam berbagai hal termasuk seksualitas.

Pendidikan seks seharusnya menjadi bentuk kepedulian orang tua terhadap masa depan anak dalam menjaga apa yang telah menjadi kehormatannya, terlebih bagi seorang perempuan. Pendidikan seks menjadi penting mengingat banyaknya kasus-kasus yang terjadi mengenai tindak kekerasan seksual terhadap anak dan remaja.

Pendidikan seks yang komprehensif di sekolah juga sangat diperlukan. Hal tersebut disebabkan, pendidikan yang kini ada lebih menitik beratkan pada aspek biologis, yaitu bentuk dan fungsi organ reproduksi. Pendidikan seks di usia dini harus membuat anak-anak memahami mana bagian tubuhnya yang boleh disentuh dan tidak boleh disentuh. Hal tersebut untuk mewaspadai hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

 

Melinda Bella Carla / 120904828

 

Kakak Beradik Raih Prestasi Sejak Dini

Avieka Hamada Kusumayudi (14) dan Narachel Elga Daniswara (11) merupakan sepasang kakak beradik yang sangat aktif mengikuti kegiatan baik akademik di sekolah maupun non akademik. Keduanya memiliki hobi yang berbeda namun sama-sama menghasilkan prestasi. Seringnya mereka mengikuti kegiatan dalam berbagai kesempatan, membuat mereka menjadi anak yang mandiri dan berani tampil di depan umum. Hal ini patut untuk diapresiasi karena tidak banyak anak-anak seusia mereka yang berani untuk menampilkan kemampuan yang dimiliki.

Mada merupakan siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 16 Yogyakarta yang saat ini duduk di kelas 7, sedangkan adiknya, Elga, merupakan siswi Sekolah Dasar (SD) Negeri Keputran A Yogyakarta. Aktivitas sehari-hari yang dilakukan oleh kedua gadis berparas manis ini adalah sekolah dan mengikuti les atau kursus di hari tertentu . Di sekolahnya Mada mengikuti ekstrakurikuler Tonti, istilah lain dari pasukan baris berbaris. Mada yang memiliki hobi berenang ini juga bercita-cita untuk menjadi dokter. Ketika ditanyai alasannya, “Biar bisa nyembuhin orang sakit,” ungkap Mada. Dalam kesehariaannya, Mada terlihat lebih cuek dibandingkan adiknya. Dibalik sikapnya tersebut, Mada amatlah pandai dalam bernyanyi, tidak terhitung sudah berapa jumlah piala dari beragam lomba bernyanyi yang diikutinya. Mada mengaku bahwa pengalamannya yang paling berkesan selama mengikuti lomba yaitu mengikuti perlombaan menyanyi yang memperebutkan Piala Amin Rais.

Avieka Hamada Kusumayudi

Elga, gadis lucu ini terlihat sangat menggemaskan. Pembawaannya yang ramah dan menyenangkan membuat siapa saja menjadi gemas. Elga sangat menyenangi dunia tari, maklum saja ia mengikuti kegiatan tari secara rutin di Ndalem Pujokusuman. Ia memiliki cita-cita untuk dapat menjadi seorang guru tari. Elga yang lincah dan ceria ini sudah beberapa kali mengisi acara menari secara kelompok ataupun duet. Beberapa prestasi yang pernah diraih oleh dara kelahiran Yogyakarta, 21 September 2005 ini di antaranya, Juara 2 Lomba Menari Klasik Jawa Tingkat Kota Yogyakarta 2016, Juara Harapan I Lomba Mewarnai HiLo 2014, duet tari tradisional dalam rangka menyambut tamu dari negara Malaysia di tahun 2015, hingga bermain ketoprak bersama pelawak senior Indonesia, Marwoto Kawer.

Narachel Elga Daniswara

Keduanya mengakui, mereka dapat mengikuti berbagai macam kompetisi karena pada awalnya hanya iseng mendaftar jika ada lowongan perlombaan. Dibantu oleh sang ibu, keduanya akhirnya sering mengikuti perlombaan sesuai dengan bidang yang digemari, seperti Mada yang cenderung lebih suka olahraga dan menyanyi, sedangkan Elga yang lebih senang menari tradisional. Elga memiliki pesan yang cukup bijak untuk anak seusianya yang belum berani mencoba mengikuti kompetisi, “Pede aja, kalo prestasinya udah tinggi, jangan ditinggalin, nanti rugi,” ungkap Elga.

Usia yang masih sangat muda tidak menghalangi semangat mereka untuk tetap berkarya. Sejak kecil sudah merintis dan mengeksplor hal-hal yang disukai, membuat Mada dan Elga tidak merasa canggung untuk tampil di hadapan banyak orang. Sejak usia dini mereka sudah bisa menghasilkan prestasi dan menjadi kebanggaan bagi orang disekelilingnya.

Oleh: Dyah Ayu Sekarwati (130905199)

Rindu Masa Kanak-kanak

Tidak ada yang salah dari merindukan kenangan saat masa kanak-kanak.

Menjadi seorang yang dewasa adalah pilihan, ingin bahagia itu juga pilihan, tetapi masa kanak-kanak kita adalah masa di mana kita belum mengenal sebuah pilihan. Bebas, lepas, berlari sesuka hati, terjatuh lalu menangis, kemudian berlari lari lagi itu masa kanak-kanak.

Harapan selalu ada setiap harinya, rasa ingin tahu dan menjadi apa adanya adalah kerja kita semasa kanak-kanak. Dimarahin orang tua karena kwatir itu sudah menjadi hal yang wajar.”Mainnya jangan jauh-jauh nanti kamu ilang loh”, kata-kata itu yang diingat saat sesama kita kanak-kanak. Rindu sekali suara itu, saat sore hari tiba adalah waktu yang paling ditunggu oleh kanak-kanak. Main di lapangan, main sepeda, main bola, main boneka-bonekaan, main pasar-pasaran, dan semua permainan yang mengeluarkan keringat dan canda tawa bersama dengan teman-teman.

Senja belum berlalu, tapi sore sudah memanggil, saatnya kembali ke rumah. Mandi, makan malam, mengerjakan PR dari sekolah. Rutinitas yang menjadi agenda harian saat kami berada di masa kanak-kanak.

Kalau diingat-ingat lagi, entah kenapa rasanya ingin kembali ke masa itu “enak ya jadi anak-anak”. Itu kata-kata yang sering kita denger dari orang dewasa yang lagi hopeless sama hidup. Hahahaha. . . . tidak ada yang salah kita mengingat dan bahkan ingin kembali ke masa itu.

juron uasku.Still001

Tomi (21), masa kanak-kanaku “main sama temen setelah pulang sekolah itu kewajiban“.

“Main sama teman-teman setelah pulang sekolah itu adalah kewajiban”, kata Tomi (21). Bermain bersama teman-teman  adalah saat-saat yang paling mengasikan dan pastinya bikin kita lupa waktu saking asiknya. Sepertinya tadi dituliskan di atas senja belum berakhir tetapi sore sudah menyapa.

juron uasku.Still002

Diza (22), Dulu waktu aku kecil “pengen banget jadi anggota sailormoon yang ke 6”.

Punya cita-cita yang gak masuk diakal. Lalu, sebentar mencoba untuk mengingat dan tertawa sendiri. Menjadi anak-anak bebak kok, mau jadi apa saja yang diinginkan. Jadi, power rangers, jadi pemain bola seperti captain tsubasa, dan tokoh kartun lainnya.

juron uasku.Still004

Monik (21), tinggal di daerah pedesaan membuat masa anak-anakku menyenangkan karena bisa main disungai, main pasar-pasaran sama teman-teman.

Permainan tradisional khas pedesaan membawa semilir angin masa kanak-kanak monik.”Seneng ya dulu main di sungai, terus di sawah, sama teman-teman di desa”, kata Monik Semangat.

Meskipun kini masa kanak-kanak hanyalah kenangan, tetapi kita bisa merindukan kenangan itu setiap saat , setiap detik, tetapi untuk kembali ke masa itu kita hanya bisa berangan-angan. Namun, apa yang kita rasakan di masa anak-anak kita adalah rasa bahagia, hidup tanpa beban, berlari sesuka hati, menangis sejadi-jadinya, bermain dengan teman-teman, mengerjakan tugas sekolah ditemani orang tua, itu semua bisa ulang lagi kepada anak-anak kita nantinya.

Tulisan ini  bertujuan untuk kembali mengajak semua orang di dunia ini yang nantinya akan menjadi seorang ayah dan ibu bahwa masa kanak-kanak dari anak-anak kita nanti adalah tanggung jawab dari bagaimanan kita memberikan moment terbaik dalam hidup mereka nanti. Semua adalah proses dan fase anak-anak adalah fase di mana kita dapat merasakan apa itu hidup tanpa beban dan menjadi apa adanya. Tertawa, tersenyum, menangis, berlari, jatuh, bangun lagi, teriak adalah hal yang harusnya kita jalanin bersama dengan anak-ana kita nantinya.

Ingatlah, dunia terus berkembang, semua bisa saja berubah, tetapi kita punya kesempatan untuk menyelamatkan dan membuat masa kanak-kanak anak-anak kita lebih bahagia dari kita dengan cara kita bukan orang lain ataupun dari perubahan zaman!

Dan untuk kita yang sudah merasakan menjadi anak-anak, tetapnya  menjadi apa adanya seperti masa itu pernah ada dihidup kita, jadi orang dewasa adalah pilihan, menjadi anak-anak mengingatkan kita untuk terus menjadi orang apa adanya dan jangan lupa senyum, ya !:)

Penulis : Elisabeth Puspasari Dian Pratama – 130904889

Voxpop dari Anak-anak yang sudah bukan lagi anak-anak, hehehe!

Kebahagiaan Anak Bukan Pada Gadget

Teknologi gadget merupakan alat komunikasi yang penting sekali di kalangan masyarakat. Selain untuk berkomunikasi, juga digunakan untuk mencari informasi melalui internet dengan mudah dan cepat. Namun sayangnya, penggunaan gadget di kalangan anak-anak tidak digunakan untuk itu. Zaman sekarang gadget digunakan anak-anak untuk bermain. Pilihan permainan anak-anak sangat banyak sekali. Mereka hanya perlu mengunduh aplikasinya, lalu bisa langsung bermain melalui gadget tersebut.

Hal ini yang membuat zaman sekarang, anak-anak diselimuti oleh dunia canggih bernama gadget. Mereka seakan-akan tidak bisa lepas dari benda tersebut. Kegiatan sederhana mereka dari makan, lalu istirahat pun mereka gunakan untuk bermain permainan di gadget mereka. Seakan-akan mereka lupa dengan dunia bermain mereka yang ‘sebenarnya’. Sebenarnya disini adalah dunia bermain bersama teman-teman sebaya, dan bermain tanpa menggunakan gadget seperti anak-anak pada zaman dulu.

Sekarang usia anak-anak sekitar lima sampai sepuluh tahun sangat menyukai bermain di gadget. Mereka seakan tidak mengenal waktu. Dari waktu sebelum mereka sekolah misalnya, lalu hingga pada malam hari dihadapkan dengan gadget. Tanpa mereka sadari, sebenarnya masa kecil mereka lama kelamaan terenggut hanya oleh dunia gadget.

  • (Anak kecil sedang asik bermain gadgetnya)

S__39460937S__39460936

Menurut salah satu dosen Universitas Atma Jaya, yaitu Th. Diyah Wulandari.S.Fil,.MM. atau biasa dipanggil Bu Wulan menjelaskan bahwa gadget sendiri sebenarnya memiliki hal positif, yaitu masyarakat dapat mengikuti perkembangan zaman yang modern, dan dapat menambah ilmu mereka dengan mencari informasi-informasi dari gadget sendiri. Bu Wulan sendiri mempunyai anak terbilang masih kecil, maka beliau pasti memahami dunia anak-anak zaman sekarang yang sangat menyukai teknologi-teknologi canggih, seperti gadget.

Lalu bila dari sisi negatif sendiri sebenarnya bagi anak-anak adalah penggunaan gadget di kalangan anak-anak seakan terbawa arus globalisasi. “sebenarnya untuk penggunaan gadget sendiri belum terlalu berpengaruh pada anak-anak, namun mereka seakan ‘dipaksa’ untuk menggunakannya”, tutur Bu Wulan. Dalam hal ini memiliki arti bahwa anak-anak dikenalkan kepada dunia teknologi dengan salah satu contohnya adalah gadget. Namun, dari orang terdekat mungkin kurang memperhatikan anak-anak mereka ketika menggunakan gadget. Itu yang membuat anak-anak seperti tidak bisa lepas dari yang namanya gadget. Mereka seakan terisolasi dari dunia bermain mereka di luar sana dengan hanya terfokus pada gadgetnya saja.

Ini memang sangat disayangkan untuk ke depannya nanti. Ketika mereka sudah dewasa mereka mungkin tidak akan mendapatkan masa kecil dan pengalaman bahagia yang tak terlupakan, misal bermain bersama orang tuanya di taman atau juga bermain dengan teman-temannya. Hal ini juga membuat terkadang anak-anak yang mungkin suka bermain gadget menjadi orang yang pendiam dan tidak bisa bersosialisasi dengan masyarakat lain, seakan-akan menutupi dari dunia luar.

Tentunya hal ini sangat berbahaya sekali bagi anak-anak dengan usia yang relatif masih perlu bimbingan dari orang tua. Pasalnya, bila dari keluarga sendiri tidak memperhatikan anaknya ketika bermain gadget, itu akan menjadi dampak buruk bagi si anak ke depannya. Mereka mungkin susah untuk bersosialisasi, sifat mereka yang tertutup, dan juga terkadang tidak dapat mengontrol emosi nanti ketika mereka beranjak dewasa.

Masa kecil anak-anak tidak akan sebahagia dengan masa kecil anak-anak pada umumnya, misal masa kecil mereka ketika bermain ada pengalaman lucu. Itu yang tidak bisa didapatkan untuk kedua kali. Masa kecil yang hanya diselimuti oleh teknologi gadget tidak akan memberikan kesan masa kecil yang bahagia.

Sebaiknya perlu ada bimbingan dari pihak keluarga, terutama orang tua. Orang tua hanya perlu mengontrol ketika anak-anak bermain gadget. Ketika memang dirasa anak tersebut sudah lama bermain gadget segera diberhentikan dengan cara memberikan tugas, misal membantu mencuci piring atau diajak bermain bersama orang tua atau teman-teman sebaya. Hal seperti itu justru akan membantu anak-anak untuk tidak terlalu fokus pada gadget. Mereka dapat menikmati masa kecil dengan bermain dengan teman-teman, belajar, dan mendapatkan perhatian juga kasih sayang dari orang tua.

Pengenalan dunia elektronik seperti gadget tidak apa-apa, tapi harus tahu batasan penggunaannya. Terutama bila sudah berada di anak-anak. Itu perlu ada pengawasan dan juga peringatan bagi anak-anak untuk tidak selalu memainkan gadget mereka.

-Jeannet Valentin / 130904942-

  • Contoh foto orang tua yang mendampingi sang anak:

(Sang ayah menemani anaknya bermain di tempat bermain umum)

IMG_3446

S__39460944

(Sang ayah sedang menemani anaknya membaca buku)

 

Kue Leker Untuk Kesembuhan Ayah

WP_20160616_1994[2].jpg

https://soundcloud.com/mariaagusta9/2016-06-13-14-18-20wav1

Umur bukanlah alasan untuk tidak berbakti pada orangtua. Kasih sayang orang tua dan keluarga merupakan kasih sayang indah yang dikaruniakan Pencipta pada umatnya. Seorang anak sudah pada hakikatnya berbakti pada orang tua. Niat yang tulus untuk menyayangi dan mencintai orang tua menjadi kunci utama.

Di bawah terik matahari siang itu, Arjuna tersenyum berjalan sambil membawa kotak putih. Menyapa beberapa orang disekitar area halte trans Jogja dekat Benteng Vedrebug menjadi kegiatan sehari – harinya.

‘ hallo mas’ sapanya sambil tersenyum kecil pada seorang petugas halte sambil berlari masuk.

Dari jauh ia terdengar bercerita dan bercanda dengan para petugas trans Jogja. Kue leker dalam kotak tidak lupa ia tawarkan. Malu-malu Arjuna bercerita. Mengenakan topi merah, ia sembunyikan wajah tulus dibalik topi. Beberapa orang bercanda dan mengobrol santai dengan Arjuna.

Namanya Arjuna, berusia 11 tahun. Dengan badan kecilnya ia tak gentar menerjang jalanan menjajakan barang dagangan milik ibunya. Kue leker yang dijajakannya merupakan kue buatan ibunya. Tanpa mengeluh dan merasa terganggu dua hari sekali ia berjalan berjualan. Ia merupakan anak ke 7 dari 11 bersaudara. Ayahnya sudah dua minggu mengalami lumpuh.

Pernah mengeluh tidak berjualan sendiri seperti ini ? ‘

Arjuna menjawab dengan tenang ‘ tidak, ini jualannya untuk membantu orang tua yang sakit ‘

Ayah Arjuna baru saja mengalami kecelakaan, dan tidak dapat berjalan kembali. Arjuna ingin membantu ayahnya untuk berobat. Menjalankan aktivitas berjualan setelah pulang sekolah. Dari daerah Kalasan ia naik bus trans Jogja dan turun di kawasan Malioboro. Tidak hanya berjualan di kawasan Malioboro biasanya Arjuna juga berjualan di kawasan Candi di daerah Kaalasan Prambanan.

Tindakan sederhana yang dilakukan Arjuna merupakan bentuk bakti yang di berikannya bagi orangtua untuk meringankan beban. Tanpa takut dan malu dia berjualan leker sendiri, dan jarak yang tidak sedikit pun ia tempuh.  Pendapatan yang diperolehnya tidak tentu bisa 200 ribu atau hanya 50 ribu. Berapapun rejeki itu di syukurinya, demi membantu ayah ibunya. Walaupun berbadan kecil, niat membantunya lebih besar. (maria Agusta/ 130904979)