Pekerja Anak Masih Isu yang Kompleks

Pekerja  Anak masih menjadi masalah di Indonesia. Inilah yang membuat pemerintah mencanangkan program Penghapusan Pekerja Anak Program Keluarga Harapan (PPA-PKH).

Program PPA-PKH ini memang diwajibkan pemerintah Indonesia untuk mengurangi pekerja anak di bawah umur 15 tahun. Di kota Jogja sendiri, pemerintah kota Jogja dalam situs resminya mengatakan, pada bulan Juli 2015 sendiri,  Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta hanya berhasil mengurangi 79 pekerja anak di Kota Yogyakarta.

Grafik pekerja anak yang ditarik Kemenaker dari tahun 2008-2015Grafik di atas menunjukkan jumlah anak yang ditarik Kementerian Ketenagakerjaan sejak tahun 2008-2015 Dengan rincian:

Tahun Jumlah Anak
2008 4.853
2009 0
2010 3000
2011 3060
2012 10.750
2013 11.000
2014 15.000
2015 16.000

(Data diambil dari situs resmi Kementerian Ketenagakerjaan)

Jumlah pekerja anak di Indonesia menurut data yang dilansir dari Badan Pusat Statistik pun juga dianggap mengalami penurunan.

Data BPS tentang jumlah pekerja anak di Indonesia hingga 2014

Sumber : http://www.ilo.org

Walaupun mengalami penurunan, isu pekerja anak ini tentu masih menjadi masalah di Indonesia. Bahkan di dalam Undang-Undang no. 13 tahun 2003 pasal 68 melarang adanya pengusaha yang mempekerjakan anak, dalam hal ini, pekerjaan yang sifatnya berat dan merugikan untuk si anak itu sendiri.

20160615_101957

Menurut, Stefanus Nindito, dosen sosiologi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, isu pekerja anak ini merupakan suatu hal yang kompleks.  Menurutnya, isu ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di negara lain, terutama negara dunia ketiga.

Salah satu kasus pekerja anak di Indonesia yang menurutnya mendapat sorotan adalah kuli anak di jermal di Sumatera Utara. Dimana anak-anak menjadi kuli bongkar muat di pelelangan ikan. Persoalan semacam ini menurutnya adalah persoalan hak perlindungan anak.

“Kalau ditanya ke mereka, seolah-olah keinginan mereka sendiri. Tapi kita harus lihat motif appa yang mendorong mereka untuk bekerja.” Kata Nindito pada Rabu (15/6).

Menurutnya, permasalahan ini memiliki variasi yang cukup kompleks. Namun,tetap ada benang merah yang menjadi kecenderungan mengapa anak menjadi pekerja dalam kasus semacam ini.

Program PPA-PKH sendiri menurut Nindito seharusnya tidak hanya operasi saja. “Persoalan sosial dan kultur harus perlu dianalisis sebelum mengambil kebijakan publik.” Kata Nindito. Menurutnya, solusi terbaik dari pemerintah adalah dengan membuat integrasi antar sektro untuk menangani persoalan anak tidak hanya dari satu sisi. Selain itu, apabila kesejahteraan masyarakat baik, maka isu seperti ini mungkin bisa berkurang. (Dio Prasasti/130904920)

Untuk streaming dan wawancara bisa cek di sini:

Air Terjun Lagi dan Lagi di Lepo Dlingo

Fityan Yudhan Aninditya (03130)

Menemukan tempat-tempat wisata baru yang belum banyak didatangi orang selalu menjadi satu agenda wajib saya. Beberapa waktu lalu sempat ke Pantai Seruni di daerah Gunung Kidul, kini saya berkesempatan untuk datang ke sebuah air terjun mungil tapi indah yang bernama Lepo Dlingo atau Air terjun Lepo di daerah Dlingo, Imogiri, Bantul. Sebenarnya Lepo Dlingo tidak baru-baru sekali, tetapi memang belum banyak orang yang datang kesini. Informasi yang saya dapatkan pun minim, hanya ada 2-3 blog yang pernah mengulas tempat ini. Berarti sekarang bertambah satu lagi dengan tulisan saya, nih!

Menuju Lepo Dlingo

Lepo Dlingo terletak di desa Pokoh 1, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya tidak terlalu jauh dengan Kebun Buah Mangunan. Dari arah Yogyakarta, kita bisa lewat Jalan Imogiri Timur, ke arah Makam Raja-Raja Imogiri dan Mangunan. Ikuti saja terus papan arah menuju ke Kebun Buah Mangunan. Sesampainya ke pertigaan yang belok kanan ke Mangunan, ambil jalan lurus menuju ke arah Dlingo. Nah, dari sini kita masih akan melanjutkan perjalanan ke kecamatan Dlingo.

Patokan yang mudah adalah carilah kantor kecamatan Dlingo. Dari pertigaan tadi, jalan terus hingga akhirnya sampai ke kantor Kecamatan Dlingo. Jangan takut tanya penduduk sekitar ya kalau mau make sure jalannya benar atau tidak. Sesampainya di kantor kecamatan, arah selanjutnya adalah menuju ke SMAN 1 Dlingo. Akan keliatan kok papan arahnya. Bedanya, begitu melewati SMAN 1 Dlingo kita masih lurus terus menuju desa Pokoh 1. Sampai ketemu perempatan cukup besar dengan lapangan besar, ambillah jalan kiri. Kita akan masuk ke pemukiman penduduk desa Pokoh 1. Jalan lurus terus sampai ketemu makam di sebelah kanan, ambil jalan yang ada jembatan kecil ke kiri. Jalan lurus sampai ketemu perempatan kecil, belok kanan. Mulai di daerah sini akan banyak papan arah Lepo Dlingo, jadi tidak usah khawatir.

Nah, sesampainya di lokasi kita bisa menitipkan kendaraan kita di rumah penduduk yang menyediakan jasa parkir. Saat itu saya parkir tepat di seberang jalan setapak untuk masuk ke Lepo Dlingo. Tarifnya Rp. 2000 untuk motor dan kalau tidak salah Rp. 10.000 untuk mobil. Kita akan disambut dengan jalan batu setapak yang tidak besar. Mungkin hanya sekitar 2 meter lebarnya. Ikuti saja jalan ini, dan tidak lama kita akn mulai medengar suara gemericik air!

Jalan masuk menuju air terjun

Air Terjun, Air Terjun dan Air Terjun lagi!

Begitu menemukan sungai, saya bingung karena tidak melihat penampakan air terjun, hanya sebuah sungai dengan air yang dangkal. Tapi tidak lama saya berjalan menelusuri sungai tersebut ke arah bawah, barulah saya disambut dengan sebuah air terjun mini dengan kolam yang dangkal. Sayang saat itu air tidak banyak, mungkin karena masih musim kemarau. Air terjun pertama ini kolamnya dangkal, dan terlihat berpasir. Mungkin kalau air lebih banyak akan terlihat lebih indah. Oh ya, karena dangkal, jadi aman bagi yang nggak bisa berenang tapi pingin main air!

Air terjun pertama

Jalan lagi menelusuri sungai, saya disambut dengan air terjun kedua. Yang kedua ini lebih unik, karena bentuknya aneh. Air terjunnya berbentuk kotak-kotak seakan dipahat oleh tangan manusia. Pada saat saya datang, saya hanyalah satu-satunya orang yang ada disitu, tidak ada penduduk sekitar yang bisa saya tanyai kepada bentuknya bisa seperti itu. Debit air juga tidak terlalu banyak, tetapi cukup bisa dibuat bermain air. Jangan lupa untuk berhati-hati dalam melangkah, karena tanahnya ditumbuhi banyak lumut yang membuat jalannya licin. Saya saja sempat terpeleset dua kali.

Air terjun kedua dengan bentuknya yang unik

Air terjun kedua dengan bentuknya yang unik

Tidak jauh dari air terjun kedua ini, ada air terjun ketiga; yang ternyata cantik sekali! Sebenarnya nggak bisa dibilang air terjun juga sih karena kecil sekali, jauh lebih kecil daripada dua air terjun sebelumnya, tetapi air yang jatuh ke sungai terkumpul dalam satu kolam yang berwarna biru; menggoda untuk segera diceburi. Entah bagaimana airnya bisa biru sekali. Kolamnya terlihat cukup dalam, jadi bisa digunakan untuk berenang. Sayang sekali saya tidak bisa berenang, jadi ya cuma bermain air birunya dari pinggiran saja. Walau kolamnya tidak terlalu besar, tetapi cukup lah digunakan untuk berenang dan bermain air bersama teman-teman. Disini saya menghabiskan waktu cukup lama, untuk duduk di pinggir kolam sekedar menikmati pemandangan dan gemericik air. Indah!

Menggoda untuk diceburi!

Menggoda untuk diceburi!

Sepertinya, Lepo Dlingo akan lebih indah ketika musim hujan, ketika aliran air sedang banyak. Saat musim kemarau seperti ini jadi tampak cukup kering. Dan juga, daerah ini seperti belum dikembangkan oleh pemerintah kabupaten Bantul. Padahal, tempat ini punya potensi yang bagus jika dikembangkan dengan baik. Mungkin harus didatangi oleh banyak orang dulu agar pemerintah notice akan tempat ini?

Satu yang pasti, musim hujan atau musim kemarau, Lepo Dlingo tetap asik untuk dikunjungi. Tapi harus diingat juga untuk bawa bekal sendiri karena belum ada orang yang jualan. Dan bawa baju ganti, siapa tahu tergoda untuk nyebur ke kolam biru.  (@iyannarendra)

Inline Skate Semarang

Anastasia Nancy I S (110904452)

Inline Skate Semarang

Panas terik matahari di Kota Semarang tidak menjadi penghalang untuk tetap membuat video dokumentasi komunitas Inline Skate Semarang. Inline Skate Semarang (ISS) merupakan salah satu komunitas sepatu roda (inline) terbesar sekaligus tertua di Semarang. Inline Skate Semarang dibentuk oleh Hends, Rizky, dan Bayu pada tanggal 3 Mei 2011. Berawal dari iseng-iseng dan hobby yang sama, ISS pada saat ini sudah menjadi komunitas besar.

“pada awalnya keisengan, hobby semata. Kemudian menjadi komunitas kecil dengan sepuluh anggota dan sekarang anggotanya kurang lebih lima puluhan.” Ujar Rizky salah satu pendiri Inline Skate Semarang.

Kejuaraan dan prestasi yang diperoleh komunitas ini sudah tidak diragukan lagi. Beberapa anggotanya memperoleh juara 1, 2, dan 3 dari event kejuaraan tingkat nasional. Event-event yang pernah di ikuti antara lain Event Saparua Festival yang  diadakan pada tanggal 18 Desember 2011 di GOR Saparua Bandung, ISS berhasil mendapatkan nama untuk kategori Speed Slalom Senior Male dengan menyabet Juara 1 Khoirul Azmi dan Juara 3 Noval Maulana (Opank).

Event Roller Manumit Series 2012 yang diadakan pada tanggal 14 – 15 April 2012 di Miko Mall, Bandung. ISS kembali mendapatkan juara 1 untuk kategori Speed Slalom Junior Male oleh Fadhil Muhammad, Juara 1 untuk kategori Slide Slalom Junior Male oleh Ray Harist dan Juara 2 untuk kategori Classic Slalom Junior Male oleh Nugroho Wicaksono (Nugie).

Event Rookie Championship 2013 di Jakarta, Event Semarang Open 2013 di Semarang, Event Cone Day I & II di Semarang dan terakhir Event Semarang Open 2014 di Semarang pada event ini ISS memperoleh juara umum.

Tidak hanya melalui berbagai event yang diikuti, dengan mengundang top skater tingkat dunia asal korea Kim Sung Jin (KSJ). Menjadikan komunitas ini sudah dikenal tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga beberapa Negara di  Asia.

“oh iya, di event semarang open 2013 itu kami mengundang best skater dari  Korea.” Ungkap Rizky.

Cabang inline skate yang ada dalam Inline Skate Semarang yaitu slalom freestyle. Inline skate sendiri memiliki tiga cabang yaitu slalom, speed, dan aggressive. Cabang slalom dinilai fleksibel dan memiliki trik-trik yang lebih bervariatif serta memiliki tingkat resiko yang lebih kecil. Oleh karena itu ISS lebih memilih slalom dibandingkan dua cabang inline lainnya.

“cabang slalom itu lebih fleksibel, kemudian trik-triknya variatif, tingkat resikonya juga lebih kecil dibandingkan speed dan aggressive.” Ungkap Rizky.

Inline Skate Semarang memiliki jadwal tetap untuk latihan para anggotanya yaitu senin, rabu, jumat dan sabtu. Hari Senin dan Jum’at ISS berlatih di Lt.7 Parking Area Mall Ciputra Semarang, untuk hari Rabu ISS berlatih di Area Parkir Depan Astra Motor Gajah Mada, dan untuk hari Sabtu ISS biasanya latihan sekaligus show off di area trotoar jalan pahlawan semarang.

Keanggotaan ISS pada saat sekarang sudah memiliki jumlah anggota yang cukup banyak. Komunitas ini tidak membatasi bagi siapa saja yang antusias dan ingin menekuni inline skate untuk ikut bergabung. Akan tetapi, bukan berarti Inline Skate Semarang tidak memiliki tata cara penerimaan anggota baru. ISS memiliki form pendaftaran anggota baru yang nantinya diberikan kepada mereka yang ingin bergabung menjadi anggota ISS.

“ISS hanya memberikan penawaran kepada mereka yang antusias dan yang ingin menekuni inline skate itu sendiri.” Ungkap Rizky selaku salah satu pendiri Inline Skate Semarang.

 

 

 

 

 

 

Setangkai Krisan Harapan di Wonokerso

Kunthi Damayanti (100904000)

Setangkai bunga berbicara lebih banyak daripada seribu kata. Tak heran jika bunga sering diidentikan dengan makna tertentu. Bunga krisan, salah satunya, adalah lambang keceriaan dan keberuntungan. Tak heran jika si cantik berwarna-warni ini banyak diburu masyarakat untuk berbagai perayaan.

Sayangnya, pasokan bunga krisan di Yogyakarta masih sangat kurang dibanding angka permintaannya. Pemerintah pun berupaya menyediakan sarana budidaya krisan, salah satunya di desa Wonokerso, Hargobinangun, Pakem, Kaliurang.

Budidaya krisan di Wonokerso mulai digalakkan pasca letusan Merapi tahun 2010 silam. Erupsi membawa keuntungan tersendiri bagi warga di lereng Merapi, yaitu lahan yang subur dan bernutrisi untuk ditanami. Lahan-lahan yang dimanfaatkan sebagai tempat budidaya krisan pun merupakan tanah milik pemerintah. Langkah ini ditempuh pemerintah sebagai solusi untuk memanfaatkan lahan marjinal yang tidak terurus, sekaligus meningkatkan taraf ekonomi masyarakat desa.

“Saat itu, kira-kira dua tahun lalu, orang dari Dinas Pertanian datang ke sini, lalu memberi penyuluhan tentang program pengembangan krisan. Mulai saat itulah saya menanam krisan. Budidaya krisan juga untuk memanfaatkan lahan. Dulu ada lahan-lahan yang tidak terawat, hanya ditumbuhi rumput kaliandra. Secara ekonomis kan lebih menguntungkan jika ditanami krisan,” ujar Sulistyo, salah satu petani krisan di Wonokerso.

Warga Wonokerso membudidayakan bunga krisan berbagai warna, seperti kuning, ungu, jingga, merah, dan hijau. Bunga krisan dibudidayakan dalam greenhouse, yaitu sebuah bangunan sederhana dengan atap lembaran plastik dan dinding kawat halus. Tujuannya adalah untuk melindungi bunga krisan dari hujan dan angin yang dapat merusak bunga yang sudah mekar. Greenhouse pun diberi lampu yang memadai karena bibit krisan hanya bisa bertumbuh baik jika mendapat pencahayaan yang cukup.

Salah satu greenhouse tempat menanam bunga krisan.

Salah satu greenhouse tempat menanam bunga krisan.

Bagian depan greenhouse.

Bagian depan greenhouse.

Krisan di dalam greenhouse

Krisan di dalam greenhouse

Budidaya krisan pun terbilang mudah. Dalam waktu tiga bulan saja para petani sudah bisa menikmati hasil panen bunga krisan. “Tantangannya adalah organisme pengganggu tanaman yang biasa menyerang saat krisan mulai berbunga. Tapi asal petaninya telaten, masalah itu bisa diatasi,” tambah Sulistyo.

Tangan petani yang telaten dan teliti menjadi syarat mutlak keberhasilan panen krisan. Jika lengah, maka bunga yang mekar akan digerogoti hama, seperti kutu tanaman, sehingga menjadi rusak kehitaman dan tidak laku dijual. Hal itu juga yang menyebabkan petani harus menggunakan banyak pestisida untuk tanaman krisan mereka. “Jadi krisan di sini tidak bisa dijadikan minuman, mbak. Banyak racunnya,” kelakar Sulistyo sambil tertawa kecil.

Krisan ungu

Krisan ungu

“Menanam krisan memang susah-susah gampang. Tapi jika panen berhasil, anggaplah 80% jadi, saya bisa memanen sekitar 8.000 tangkai krisan. Itu sama dengan 800 ikat bunga krisan potong. Jika harga sedang bagus, saya bisa menjualnya seharga Rp 10.000 per ikat, sehingga omzet sekali panen sekitar Rp 8 juta. Namun jika hasil panen sedang buruk, setidaknya saya masih bisa membeli bibit dan pupuk untuk menanam kembali,” jelas Sulistyo lagi. Ayah dua putra ini pun telah mengatur pola penanaman di lahan miliknya sehingga bisa panen setiap bulan.

“Saya senang menanam krisan. Pertama karena bunga itu menarik, semua orang suka bunga. Kedua, hasilnya sangat lumayan karena permintaan bunga potong di Yogyakarta masih sangat banyak, jadi prospek ke depan masih sangat baik. Saya berencana akan terus menanam krisan,” tutup Sulistyo.

 

 

Lihat juga: Asosiasi petani krisan di Wonokerso.

Jabatan Sri Sultan Masih Menggantung

Wujud Konsistensi Masyarakat Jogjakarta Untuk Penetapan (Gambar Diambil di depan Gedung Agung Jogjakarta, Rabu (25/5))

OLEH: FRANSISCUS ASISI ADITYA YUDA (080903491)

             Polemik jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur yang langsung dipegang oleh Sri Sultan dan Sri Paduka Paku Alam, hingga kini masih belum menunjukkan titik temu yang jelas. Malah baru-baru ini muncul keputusan dari Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri untuk memperpanjang  jabatan pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur hingga tahun 2013. Belum lagi di tambah masalah Sultan Ground yang disertifikasikan atas nama negara tanpa sepengetahuan pihak Keraton Jogjakarta. Sungguh Ironis, Kota Jogjakarta yang selalu berkontribusi positif demi kemajuan bangsa ini bagaikan menelan pil pahit atas kejadian ini.

            “Sebenarnya justru semakin menunjukkan manajemen pemerintahan yang buruk”, ujar Widhihasto Wasana Putra, Pemimpin Gerakan Rakyat Mataram.

            Menurut Widhihasto hal tersebut dikarenakan tidak ada koordinasi yang jelas antara kepala dengan tubuh, Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri sudah menyatakan perpanjangan tetapi di lain pihak ada yang mengatakan masih wacana.

            Kembali merunut sejarah, sebenarnya hak keistimewaan kota Jogakarta sudah di miliki sejak zaman sebelum kemerdekaan. Status Kerajaan sudah, Jogjakarta miliki sejak zaman penjajahan, mulai dari VOC , Republik Belanda-Perancis, Kerajaan Inggris, Hindia Belanda dan terakhir zaman penjajahan Tentara Jepang. Pada zaman penjajahan Belanda status kerajaan yang dimiliki oleh Jogjakarta disebut sebagai Zelfbestuurende Lanschappen dan disebut dengan Koti/Kooti pada zaman penjajahan Jepang. Status kerajaan tersebut membawa konsekuensi hukum dan politik berupa sebuah kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayah atau negaranya sendiri, namun tetap di bawah pengawasan pemerintah penjajahnya. Berkat Status kerajaan itu  pula oleh Soekarno, kemudian diakui dan di beri payung hukum sebagai sebuah daerah bukan lagi sebagai negara.

            Fakta sejarah lain juga menunjukkan hal serupa, sesuai dengan Maklumat 5 September 1945, salah satu poin penting bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sultan berhak dan bertanggung jawab mengelola pemerintahannya sendiri dan berhubungan langsung dengan pemerintah pusat. Berawal dari hal itulah pengisian jabatan Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta adalah Sri Sultan.

            Ditemui dikantornya (25/5), Widhihasto mengatakan bahwa dari aspsek manapun, sejarah, yuridis dan filosofi adalah mengarah kepada penetapan, hal itu didukung pula oleh piagam penetapan kedudukan yang dikeluarkan pada zaman pemerintahan Soekarno dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 pasal 18b ayat 1.

            Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 pasal 18 b ayat 1 itu berbunyi Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.

            Kita juga tahu, bahwa polemik yang terjadi hingga saat ini juga terkait pernyataan Sri Sultan tentang rencana pengundurun dirinya untuk tidak menjabat sebagai Gubernur lagi. Berkaitan dengan hal tersebut, Widhi menyatakan bahwa pernyataan Sri Sultan tersebut mengandung arti bahwa beliau tidak mau dicalonkan kembali, tetapi langsung saja di tetapkan, itu hanya permasalahan pemilihan diksi dan kata. Widhi juga menambahkan bahwa dirinya juga tidak mau berspekulasi, apakah beliau mau atau tidak. Tapi yang jelas, rakyat Jogjakarta menginginkan penetapan.

            Sebuah polling opini publik yang dilakukan sebelum artikel ini di turunkan dengan mengambil sampel masyarakat Jogjakarta, bahwa 94,67 persen responden menyatakan setuju penetapan Sri Sultan dan Sri Paduka Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur tanpa adanya proses pemilihan.

            Hingga kini draf Rancangan Undang-undang Keistimewaan masih berada di tangan Komisi II untuk diproses. Namun yang jelas, setelah mencermati daftar isian masalah, sembilan fraksi yang setuju dengan penetapan, pembahasannya bukan lagi soal pemilihan atau penetapan. Tetapi konsep Gubernur utama dan mekanisme pencalonan itu dihapuskan. “mereka mengingkan pasal itu di hapus, namun sebenarnya sama saja, mereka ingin kembali ke penetapan”, ujar Widhi.

            Widhi menambahkan, hal ini merupakan sinyal yang bagus, namun kembali lagi kepada pemerintah. Tetapi pihaknya akan terus mengawal sidang Komisi II. Hal serupa juga akan di lakukan oleh seluruh masyarakat Jogjakarta, dengan semangat Ijab Qbul sesuai dengan amanah HB IX, mereka akan terus memperjuangkan hak keistimewaan untuk Kota Jogjakarta, karena pada dasarnya pegangan hukumnya sangat jelas, Piagam Penetapan Kedudukan dan Amanah Ijab Qbul HB IX.(adt)

Detik-detik Mencapai Kesempurnaan Hidup Di Hari Raya Waisak

Paskalia Ditha Ratnasari (08 09 03685)

MAGELANG – Tepat pada saat Purnamasidhi (bulan purnama) di bulan Waisak, hari Selasa (17/5), umat Buddha di seluruh dunia merayakan Tri Suci Waisak 2555 BE/2011 dengan tema “Mencari Kebahagiaan dan Kedamaian Dari Dalam Diri Sendiri”. Pada saat peringatan Tri Suci Waisak, umat Buddha kembali memperingati, mengagungkan, dan memuliakan tiga peristiwa agung yang terjadi pada saat Purnamasidhi dan bulan yang sama.

Setiap tahun, umat Buddha di Indonesia maupun dari luar negeri dengan penuh rasa bakti datang ke Candi Borobudur untuk memuja Keagungan Buddha pada Hari Tri Suci Waisak dalam upacara Waisak nasional. Selain itu, dalam memperingati Waisak, tidak hanya umat Buddha saja, melainkan banyak masyarakat non-Buddha dan banyak wisatawan mancanegara yang ingin ikut andil dalam hari raya Waisak ini. Hari Tri Suci Waisak adalah hari suci teragung yang mengandung hikmah tentang puncak perjuangan seorang umat manusia untuk menemukan kebahagiaan tertinggi demi membebaskan semua makhluk dari belenggu penderitaan. Demikian Hari Tri Suci Waisak hendaknya menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menggapai kebahagiaan yang sejati untuk mendapatkan kesempurnaan hidup dengan cara mengisinya dengan berbagai kebajikan kepada semua makhluk.

Hari Selasa (17/5), acara dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.30 WIB di Candi Borobudur. Walaupun hujan deras sempat membasahi pelataran candi Borobudur sekitar pukul 19.00 WIB, umat Buddha tetap khidmat dalam menjalankan ibadahnya. Setelah berkumpul, berdoa, dan merenung, umat Buddha diajak untuk memperingati detik-detik Waisak 2555 BE dengan melakukan meditasi mulai pukul 18.10 WIB sampai selesai. Setelah melakukan meditasi, dilanjutkan dengan pemberkatan dan pradaksina, kemudian pelepasan lampion ke udara.

Dalam perayaan tersebut, Ketua Umum Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia, Maha Bhiksu Dutavira Sthavira menyampaikan kata sambutan yang berisikan Makna Hari Raya Waisak. Salah satu maknanya adalah memperingati hari pencapaian sempurna seorang manusia menjadi Buddha (Anuttara Sanyaksamboddhi), melalui proses pemutusan semua kekotoran batin dan memahami hakikat kehidupan (588 SM). Dengan jalan menerima segala sesuatu yang ada dalam kehidupan kita sebagaimana adanya, akan membawa kita pada keseimbangan batin untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan dalam diri sendiri.

“Hari Waisak mempunyai makna dan arti yang sangat dalam sekali bagi umat Buddha dan orang-orang yang mencari jati diri. Hyang Buddha telah menemukan dan mengajarkan Dharma (hukum perbuatan, hukum dimensi waktu, hukum saling ketergantungan atau interdependensi) yang sangat mulia dan agung yang dapat membebaskan semua makhluk dari lautan samsara kelahiran dan kematian. Setiap orang yang menjalankan Dharma akan mendapatkan kebahagiaan pada awalnya, kebahagiaan pada pertengahannya, dan kebahagiaan pada akhirnya. Dengan demikian sebagai umat Buddha yang saleh seharusnya bisa menjadikan Dharma Hyang Buddha sebagai jalan hidup (the way of life) untuk menemukan kebahagiaan kehidupan dan menemukan jati dirinya”, tutur Maha Bhiksu Dutavira Sthavira, Ketua Umum Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu modal utama agar dapat menuju kepada pencapaian akhir, yaitu kesempurnaan hidup.

Waisak akan sangat bermakna jika kita mau merenungkan kembali ajaran yang telah diajarkan oleh Hyang Buddha. Kita menjadikan hari raya Waisak sebagai sarana untuk introspeksi diri, melihat segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Sehingga semangat Waisak dapat membawa perubahan terhadap semua aspek diri kita dan kehidupan kita.

Dalam renungan Waisak tentang Pencerahan Pikiran, YM Bhikshu Tadisa Paramita Mahasthavira berkata, “Hati dalam ajaran Buddhis disebut sebagai Panca Skandha (terdiri dari: rupa, perasaan, pikiran, pencerapan, dan kesadaran). Pahamilah bahwa semua karma berasal dari aktivitas hati, Hati khayal yang menampakkan, Hati diskriminasi yang membedakan ciri, Hati melekat yang menjadikan, Hati bodoh yang membuat derita, Hati bijak yang menetralisirkan, Hati sunya lenyaplah fenomena, Hati murni bebas dari rintangan dualitas, Hati cerah menerangi segala realita kebenaran sebagaimana adanya”.

Dalam peringatan hari Waisak, terdapat makna yang mendalam yang disampaikan lewat sepatah dua patah kata oleh Bhikkhu Pabhākaro. Beliau berkata, “Setelah menemukan kebenaran sejati (Dhamma) yang dapat membebaskan manusia dari penderitaan, sang Buddha Gautama berkelana untuk mengajarkan Dhamma demi kebahagiaan dewa dan manusia. “Terbukalah pintu kebahagiaan abadi bagi mereka yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan”. Tiga peristiwa itu, memberikan gambaran kepada kita bahwa begitulah proses kehidupan. Setelah lahir, tumbuh dan berkembang lalu akhirnya harus meninggal. Dalam kehidupan manusia mengalami berbagai macam hal, seperti kegagalan, ketengangan mental, keputusasaan, kejenuhan, dan lain sebagainya yang memaksa manusia untuk terbebas dari kondisi tersebut dan menggantinya dengan konsep-konsep kebahagiaan dengan ukuran yang berbeda-beda. Keindahan jasmani, pemuasan nafsu, pencarian tempat-tempat hiburan, penumpukan materi dan lain sebagainya yang tidak dapat disebutkan keseluruhan menjadi obsesi umat manusia dalam berusaha mencari  kebahagiaannya. Berbagai macam usaha yang dilakukan umat manusia untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut, tidak mampu memenuhi kebutuhan akan kebahagiaan itu. Justru hal tersebut membuat manusia terjerat dalam keserakahan, monopoli, ketidak-adilan, dorongan mengahncurkan sesama dan pemuasan akan nafsu yang tiada habisnya. Demikianlah umat manusia mencari kebahagiaan dengan cara-cara salah yang hanya mendapatkan kebahagiaannya sekejap mata. Sesungguhnya sang Buddha telah mengajarkan bagaimana mencari kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang sejati sesungguhnya berada di dalam hati, dimana batin ini mampu melenyapkan nafsu, memiliki kebahagiaan yang sederhana dengan memiliki rasa puas, akhirnya batin mampu melepaskan ketamakan, kebencian, iri hati, pemuasan, keserakahan, kegelapan batin sehingga batin begitu damai dari hiruk-pikuk duniawi.” Beliau juga menegaskan bahwa Siddharta berarti “Tercapailah segala cita-citanya”.

 

Kiprah Telepon Umum “Coin” Kian Tenggelam

Bagaikan Buku Gambar

Oleh Beatrix Dewan 080903492

“Habis manis sepah di buang”. Yang baru datang, yang lama di buang. Kira-kira begitulah kondisi Telepon Umum “Coin” atau yang biasa disingkat TUC di Indonesia. Padahal, di era 90an, telepon umum koin menjadi primadona. Hampir seluruh warga Indonesia menggandrunginya. Pada masa keemasannya itulah, telepon umum koin menjadi alat komunikasi yang paling sering di akses masyarakat.

Kini, kiprah telepon umum koin seakan tenggelam terbawa arus teknologi komunikasi digital dan modern. Melesatnya penetrasi telekomunikasi seluler menjadi penyebab masyarakat semakin jarang menggunakan sarana telepon umum koin. Teknologi komunikasi tak berhenti beranak pinak dari waktu ke waktu. Kemajuannya yang pesat bak aliran sungai yang tak bisa lagi dibendung. Aneka jenis dan bentuk alat komunikasi modern terus membanjiri kehidupan manusia.

Aku Pilih Yang Kecil Aja

Di Yogyakarta, pos telepon umum koin nampak sepi pengunjung dan tidak terawat. Beberapa unit telepon umum koin bahkan tidak lagi berfungsi dan rusak. Trotoar tempat dibangunnya pos telepon umum koin menjadi tidak sedap di pandang mata dan jauh dari perhatian masyarakat. Box telepon yang seharusnya dirawat dengan baik, kini tidak sebagus dulu. Banyak coretan hasil karya tangan-tangan tidak bertanggung jawab di dinding box. Bahkan, tidak sedikit gagang telepon hilang entah ke mana.

Serupa Tapi Tak Sama

Jumlah telepon umum koin diberbagai daerah juga terlihat semakin menyusut, bahkan pengadaannya di beberapa daerah dihentikan. Hal ini membuktikan bahwa pasal 17 Kepmenhub No. 20/2001 dan 21/2001 juga sudah mulai diabaikan oleh pihak terkait karena dirasa ketinggalan jaman dan tak lagi relevan. Pasal ini menyatakan bahwa pemilik lisensi telepon tetap diwajibkan membangun telepon umum 3% dari kapasitas terpasang dan 1% diantaranya adalah telepon umum koin.

Tanpa disadari, sifat Hi-Tech industri media berdampak langsung pada tataran regulasi telekomunikasi. Regulasi pasal 17 Kepmenhub No. 20 tahun 2001 dan 21 tahun 2001 menunjukan bahwa regulator tak mampu mengimbangi akselerasi perubahan teknologi. Pada masa regulasi itu di buat, angka 3% masih relevan, tapi tidak lagi relevan untuk masa sekarang. Angka 1% untuk telepon umum koin sangat menyulitkan operator. Setting telepon umum koin sulit dilakukan oleh pihak operator karena ukuran dan jenis koin yang selalu berubah-ubah. Selain itu, kepemilikan koin di masyarakat juga semakin tersisih.

Meski tarif lokalnya murah, masyarakat merasa enggan mengakses telepon umum koin karena semakin sulit menemukan telepon umum koin yang bersih, nyaman, dan waras. Masyarakat juga merasa privasi mereka kurang terakomodir ketika menggunakan telepon umum koin. “Box telepon yang terlalu terbuka dan jarak antar telepon yang terlalu dekat membuat tidak nyaman,” ungkap Intan, mahasiswa salah satu universitas negeri di Yogyakarta.

Bagi operator, tingginya tingkat vandalisme menyebabkan biaya perawatan telepon umum koin membengkak. Padahal, harga yang ditetapkan dan dibebankan kepada masyarakat sangat murah, Rp 100,00 per pulsa. Bagi masyarakat, buruknya kondisi telepon umum membuat mereka enggan menggunakannya. Inilah keadaan dilematis dalam bidang telekomunikasi yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.

Kedepannya, diharapkan semua pihak yang terlibat harus segera menentukan langkah untuk menyelamatkan eksistensi keberadaan fasilitas public ini. Regulator harus segera melakukan kaji ulang regulasi agar tidak lagi jadul. Sementara, operator harus menyiapkan inovasi agar telepon umum kembali diminati. “Jangan hanya melihat pengguna telepon umum diperkotaan, tapi lihat juga yang tinggal di daerah sub urban. Mereka masih menggunakan dan membutuhkan telepon umum koin,” ujar Dela mendukung eksistensi telepon umum koin. (bee)