Pekerja Anak Masih Isu yang Kompleks

Pekerja  Anak masih menjadi masalah di Indonesia. Inilah yang membuat pemerintah mencanangkan program Penghapusan Pekerja Anak Program Keluarga Harapan (PPA-PKH).

Program PPA-PKH ini memang diwajibkan pemerintah Indonesia untuk mengurangi pekerja anak di bawah umur 15 tahun. Di kota Jogja sendiri, pemerintah kota Jogja dalam situs resminya mengatakan, pada bulan Juli 2015 sendiri,  Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kota Yogyakarta hanya berhasil mengurangi 79 pekerja anak di Kota Yogyakarta.

Grafik pekerja anak yang ditarik Kemenaker dari tahun 2008-2015Grafik di atas menunjukkan jumlah anak yang ditarik Kementerian Ketenagakerjaan sejak tahun 2008-2015 Dengan rincian:

Tahun Jumlah Anak
2008 4.853
2009 0
2010 3000
2011 3060
2012 10.750
2013 11.000
2014 15.000
2015 16.000

(Data diambil dari situs resmi Kementerian Ketenagakerjaan)

Jumlah pekerja anak di Indonesia menurut data yang dilansir dari Badan Pusat Statistik pun juga dianggap mengalami penurunan.

Data BPS tentang jumlah pekerja anak di Indonesia hingga 2014

Sumber : http://www.ilo.org

Walaupun mengalami penurunan, isu pekerja anak ini tentu masih menjadi masalah di Indonesia. Bahkan di dalam Undang-Undang no. 13 tahun 2003 pasal 68 melarang adanya pengusaha yang mempekerjakan anak, dalam hal ini, pekerjaan yang sifatnya berat dan merugikan untuk si anak itu sendiri.

20160615_101957

Menurut, Stefanus Nindito, dosen sosiologi dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta, isu pekerja anak ini merupakan suatu hal yang kompleks.  Menurutnya, isu ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di negara lain, terutama negara dunia ketiga.

Salah satu kasus pekerja anak di Indonesia yang menurutnya mendapat sorotan adalah kuli anak di jermal di Sumatera Utara. Dimana anak-anak menjadi kuli bongkar muat di pelelangan ikan. Persoalan semacam ini menurutnya adalah persoalan hak perlindungan anak.

“Kalau ditanya ke mereka, seolah-olah keinginan mereka sendiri. Tapi kita harus lihat motif appa yang mendorong mereka untuk bekerja.” Kata Nindito pada Rabu (15/6).

Menurutnya, permasalahan ini memiliki variasi yang cukup kompleks. Namun,tetap ada benang merah yang menjadi kecenderungan mengapa anak menjadi pekerja dalam kasus semacam ini.

Program PPA-PKH sendiri menurut Nindito seharusnya tidak hanya operasi saja. “Persoalan sosial dan kultur harus perlu dianalisis sebelum mengambil kebijakan publik.” Kata Nindito. Menurutnya, solusi terbaik dari pemerintah adalah dengan membuat integrasi antar sektro untuk menangani persoalan anak tidak hanya dari satu sisi. Selain itu, apabila kesejahteraan masyarakat baik, maka isu seperti ini mungkin bisa berkurang. (Dio Prasasti/130904920)

Untuk streaming dan wawancara bisa cek di sini:

Air Terjun Lagi dan Lagi di Lepo Dlingo

Fityan Yudhan Aninditya (03130)

Menemukan tempat-tempat wisata baru yang belum banyak didatangi orang selalu menjadi satu agenda wajib saya. Beberapa waktu lalu sempat ke Pantai Seruni di daerah Gunung Kidul, kini saya berkesempatan untuk datang ke sebuah air terjun mungil tapi indah yang bernama Lepo Dlingo atau Air terjun Lepo di daerah Dlingo, Imogiri, Bantul. Sebenarnya Lepo Dlingo tidak baru-baru sekali, tetapi memang belum banyak orang yang datang kesini. Informasi yang saya dapatkan pun minim, hanya ada 2-3 blog yang pernah mengulas tempat ini. Berarti sekarang bertambah satu lagi dengan tulisan saya, nih!

Menuju Lepo Dlingo

Lepo Dlingo terletak di desa Pokoh 1, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lokasinya tidak terlalu jauh dengan Kebun Buah Mangunan. Dari arah Yogyakarta, kita bisa lewat Jalan Imogiri Timur, ke arah Makam Raja-Raja Imogiri dan Mangunan. Ikuti saja terus papan arah menuju ke Kebun Buah Mangunan. Sesampainya ke pertigaan yang belok kanan ke Mangunan, ambil jalan lurus menuju ke arah Dlingo. Nah, dari sini kita masih akan melanjutkan perjalanan ke kecamatan Dlingo.

Patokan yang mudah adalah carilah kantor kecamatan Dlingo. Dari pertigaan tadi, jalan terus hingga akhirnya sampai ke kantor Kecamatan Dlingo. Jangan takut tanya penduduk sekitar ya kalau mau make sure jalannya benar atau tidak. Sesampainya di kantor kecamatan, arah selanjutnya adalah menuju ke SMAN 1 Dlingo. Akan keliatan kok papan arahnya. Bedanya, begitu melewati SMAN 1 Dlingo kita masih lurus terus menuju desa Pokoh 1. Sampai ketemu perempatan cukup besar dengan lapangan besar, ambillah jalan kiri. Kita akan masuk ke pemukiman penduduk desa Pokoh 1. Jalan lurus terus sampai ketemu makam di sebelah kanan, ambil jalan yang ada jembatan kecil ke kiri. Jalan lurus sampai ketemu perempatan kecil, belok kanan. Mulai di daerah sini akan banyak papan arah Lepo Dlingo, jadi tidak usah khawatir.

Nah, sesampainya di lokasi kita bisa menitipkan kendaraan kita di rumah penduduk yang menyediakan jasa parkir. Saat itu saya parkir tepat di seberang jalan setapak untuk masuk ke Lepo Dlingo. Tarifnya Rp. 2000 untuk motor dan kalau tidak salah Rp. 10.000 untuk mobil. Kita akan disambut dengan jalan batu setapak yang tidak besar. Mungkin hanya sekitar 2 meter lebarnya. Ikuti saja jalan ini, dan tidak lama kita akn mulai medengar suara gemericik air!

Jalan masuk menuju air terjun

Air Terjun, Air Terjun dan Air Terjun lagi!

Begitu menemukan sungai, saya bingung karena tidak melihat penampakan air terjun, hanya sebuah sungai dengan air yang dangkal. Tapi tidak lama saya berjalan menelusuri sungai tersebut ke arah bawah, barulah saya disambut dengan sebuah air terjun mini dengan kolam yang dangkal. Sayang saat itu air tidak banyak, mungkin karena masih musim kemarau. Air terjun pertama ini kolamnya dangkal, dan terlihat berpasir. Mungkin kalau air lebih banyak akan terlihat lebih indah. Oh ya, karena dangkal, jadi aman bagi yang nggak bisa berenang tapi pingin main air!

Air terjun pertama

Jalan lagi menelusuri sungai, saya disambut dengan air terjun kedua. Yang kedua ini lebih unik, karena bentuknya aneh. Air terjunnya berbentuk kotak-kotak seakan dipahat oleh tangan manusia. Pada saat saya datang, saya hanyalah satu-satunya orang yang ada disitu, tidak ada penduduk sekitar yang bisa saya tanyai kepada bentuknya bisa seperti itu. Debit air juga tidak terlalu banyak, tetapi cukup bisa dibuat bermain air. Jangan lupa untuk berhati-hati dalam melangkah, karena tanahnya ditumbuhi banyak lumut yang membuat jalannya licin. Saya saja sempat terpeleset dua kali.

Air terjun kedua dengan bentuknya yang unik

Air terjun kedua dengan bentuknya yang unik

Tidak jauh dari air terjun kedua ini, ada air terjun ketiga; yang ternyata cantik sekali! Sebenarnya nggak bisa dibilang air terjun juga sih karena kecil sekali, jauh lebih kecil daripada dua air terjun sebelumnya, tetapi air yang jatuh ke sungai terkumpul dalam satu kolam yang berwarna biru; menggoda untuk segera diceburi. Entah bagaimana airnya bisa biru sekali. Kolamnya terlihat cukup dalam, jadi bisa digunakan untuk berenang. Sayang sekali saya tidak bisa berenang, jadi ya cuma bermain air birunya dari pinggiran saja. Walau kolamnya tidak terlalu besar, tetapi cukup lah digunakan untuk berenang dan bermain air bersama teman-teman. Disini saya menghabiskan waktu cukup lama, untuk duduk di pinggir kolam sekedar menikmati pemandangan dan gemericik air. Indah!

Menggoda untuk diceburi!

Menggoda untuk diceburi!

Sepertinya, Lepo Dlingo akan lebih indah ketika musim hujan, ketika aliran air sedang banyak. Saat musim kemarau seperti ini jadi tampak cukup kering. Dan juga, daerah ini seperti belum dikembangkan oleh pemerintah kabupaten Bantul. Padahal, tempat ini punya potensi yang bagus jika dikembangkan dengan baik. Mungkin harus didatangi oleh banyak orang dulu agar pemerintah notice akan tempat ini?

Satu yang pasti, musim hujan atau musim kemarau, Lepo Dlingo tetap asik untuk dikunjungi. Tapi harus diingat juga untuk bawa bekal sendiri karena belum ada orang yang jualan. Dan bawa baju ganti, siapa tahu tergoda untuk nyebur ke kolam biru.  (@iyannarendra)

Inline Skate Semarang

Anastasia Nancy I S (110904452)

Inline Skate Semarang

Panas terik matahari di Kota Semarang tidak menjadi penghalang untuk tetap membuat video dokumentasi komunitas Inline Skate Semarang. Inline Skate Semarang (ISS) merupakan salah satu komunitas sepatu roda (inline) terbesar sekaligus tertua di Semarang. Inline Skate Semarang dibentuk oleh Hends, Rizky, dan Bayu pada tanggal 3 Mei 2011. Berawal dari iseng-iseng dan hobby yang sama, ISS pada saat ini sudah menjadi komunitas besar.

“pada awalnya keisengan, hobby semata. Kemudian menjadi komunitas kecil dengan sepuluh anggota dan sekarang anggotanya kurang lebih lima puluhan.” Ujar Rizky salah satu pendiri Inline Skate Semarang.

Kejuaraan dan prestasi yang diperoleh komunitas ini sudah tidak diragukan lagi. Beberapa anggotanya memperoleh juara 1, 2, dan 3 dari event kejuaraan tingkat nasional. Event-event yang pernah di ikuti antara lain Event Saparua Festival yang  diadakan pada tanggal 18 Desember 2011 di GOR Saparua Bandung, ISS berhasil mendapatkan nama untuk kategori Speed Slalom Senior Male dengan menyabet Juara 1 Khoirul Azmi dan Juara 3 Noval Maulana (Opank).

Event Roller Manumit Series 2012 yang diadakan pada tanggal 14 – 15 April 2012 di Miko Mall, Bandung. ISS kembali mendapatkan juara 1 untuk kategori Speed Slalom Junior Male oleh Fadhil Muhammad, Juara 1 untuk kategori Slide Slalom Junior Male oleh Ray Harist dan Juara 2 untuk kategori Classic Slalom Junior Male oleh Nugroho Wicaksono (Nugie).

Event Rookie Championship 2013 di Jakarta, Event Semarang Open 2013 di Semarang, Event Cone Day I & II di Semarang dan terakhir Event Semarang Open 2014 di Semarang pada event ini ISS memperoleh juara umum.

Tidak hanya melalui berbagai event yang diikuti, dengan mengundang top skater tingkat dunia asal korea Kim Sung Jin (KSJ). Menjadikan komunitas ini sudah dikenal tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga beberapa Negara di  Asia.

“oh iya, di event semarang open 2013 itu kami mengundang best skater dari  Korea.” Ungkap Rizky.

Cabang inline skate yang ada dalam Inline Skate Semarang yaitu slalom freestyle. Inline skate sendiri memiliki tiga cabang yaitu slalom, speed, dan aggressive. Cabang slalom dinilai fleksibel dan memiliki trik-trik yang lebih bervariatif serta memiliki tingkat resiko yang lebih kecil. Oleh karena itu ISS lebih memilih slalom dibandingkan dua cabang inline lainnya.

“cabang slalom itu lebih fleksibel, kemudian trik-triknya variatif, tingkat resikonya juga lebih kecil dibandingkan speed dan aggressive.” Ungkap Rizky.

Inline Skate Semarang memiliki jadwal tetap untuk latihan para anggotanya yaitu senin, rabu, jumat dan sabtu. Hari Senin dan Jum’at ISS berlatih di Lt.7 Parking Area Mall Ciputra Semarang, untuk hari Rabu ISS berlatih di Area Parkir Depan Astra Motor Gajah Mada, dan untuk hari Sabtu ISS biasanya latihan sekaligus show off di area trotoar jalan pahlawan semarang.

Keanggotaan ISS pada saat sekarang sudah memiliki jumlah anggota yang cukup banyak. Komunitas ini tidak membatasi bagi siapa saja yang antusias dan ingin menekuni inline skate untuk ikut bergabung. Akan tetapi, bukan berarti Inline Skate Semarang tidak memiliki tata cara penerimaan anggota baru. ISS memiliki form pendaftaran anggota baru yang nantinya diberikan kepada mereka yang ingin bergabung menjadi anggota ISS.

“ISS hanya memberikan penawaran kepada mereka yang antusias dan yang ingin menekuni inline skate itu sendiri.” Ungkap Rizky selaku salah satu pendiri Inline Skate Semarang.

 

 

 

 

 

 

Setangkai Krisan Harapan di Wonokerso

Kunthi Damayanti (100904000)

Setangkai bunga berbicara lebih banyak daripada seribu kata. Tak heran jika bunga sering diidentikan dengan makna tertentu. Bunga krisan, salah satunya, adalah lambang keceriaan dan keberuntungan. Tak heran jika si cantik berwarna-warni ini banyak diburu masyarakat untuk berbagai perayaan.

Sayangnya, pasokan bunga krisan di Yogyakarta masih sangat kurang dibanding angka permintaannya. Pemerintah pun berupaya menyediakan sarana budidaya krisan, salah satunya di desa Wonokerso, Hargobinangun, Pakem, Kaliurang.

Budidaya krisan di Wonokerso mulai digalakkan pasca letusan Merapi tahun 2010 silam. Erupsi membawa keuntungan tersendiri bagi warga di lereng Merapi, yaitu lahan yang subur dan bernutrisi untuk ditanami. Lahan-lahan yang dimanfaatkan sebagai tempat budidaya krisan pun merupakan tanah milik pemerintah. Langkah ini ditempuh pemerintah sebagai solusi untuk memanfaatkan lahan marjinal yang tidak terurus, sekaligus meningkatkan taraf ekonomi masyarakat desa.

“Saat itu, kira-kira dua tahun lalu, orang dari Dinas Pertanian datang ke sini, lalu memberi penyuluhan tentang program pengembangan krisan. Mulai saat itulah saya menanam krisan. Budidaya krisan juga untuk memanfaatkan lahan. Dulu ada lahan-lahan yang tidak terawat, hanya ditumbuhi rumput kaliandra. Secara ekonomis kan lebih menguntungkan jika ditanami krisan,” ujar Sulistyo, salah satu petani krisan di Wonokerso.

Warga Wonokerso membudidayakan bunga krisan berbagai warna, seperti kuning, ungu, jingga, merah, dan hijau. Bunga krisan dibudidayakan dalam greenhouse, yaitu sebuah bangunan sederhana dengan atap lembaran plastik dan dinding kawat halus. Tujuannya adalah untuk melindungi bunga krisan dari hujan dan angin yang dapat merusak bunga yang sudah mekar. Greenhouse pun diberi lampu yang memadai karena bibit krisan hanya bisa bertumbuh baik jika mendapat pencahayaan yang cukup.

Salah satu greenhouse tempat menanam bunga krisan.

Salah satu greenhouse tempat menanam bunga krisan.

Bagian depan greenhouse.

Bagian depan greenhouse.

Krisan di dalam greenhouse

Krisan di dalam greenhouse

Budidaya krisan pun terbilang mudah. Dalam waktu tiga bulan saja para petani sudah bisa menikmati hasil panen bunga krisan. “Tantangannya adalah organisme pengganggu tanaman yang biasa menyerang saat krisan mulai berbunga. Tapi asal petaninya telaten, masalah itu bisa diatasi,” tambah Sulistyo.

Tangan petani yang telaten dan teliti menjadi syarat mutlak keberhasilan panen krisan. Jika lengah, maka bunga yang mekar akan digerogoti hama, seperti kutu tanaman, sehingga menjadi rusak kehitaman dan tidak laku dijual. Hal itu juga yang menyebabkan petani harus menggunakan banyak pestisida untuk tanaman krisan mereka. “Jadi krisan di sini tidak bisa dijadikan minuman, mbak. Banyak racunnya,” kelakar Sulistyo sambil tertawa kecil.

Krisan ungu

Krisan ungu

“Menanam krisan memang susah-susah gampang. Tapi jika panen berhasil, anggaplah 80% jadi, saya bisa memanen sekitar 8.000 tangkai krisan. Itu sama dengan 800 ikat bunga krisan potong. Jika harga sedang bagus, saya bisa menjualnya seharga Rp 10.000 per ikat, sehingga omzet sekali panen sekitar Rp 8 juta. Namun jika hasil panen sedang buruk, setidaknya saya masih bisa membeli bibit dan pupuk untuk menanam kembali,” jelas Sulistyo lagi. Ayah dua putra ini pun telah mengatur pola penanaman di lahan miliknya sehingga bisa panen setiap bulan.

“Saya senang menanam krisan. Pertama karena bunga itu menarik, semua orang suka bunga. Kedua, hasilnya sangat lumayan karena permintaan bunga potong di Yogyakarta masih sangat banyak, jadi prospek ke depan masih sangat baik. Saya berencana akan terus menanam krisan,” tutup Sulistyo.

 

 

Lihat juga: Asosiasi petani krisan di Wonokerso.

Jabatan Sri Sultan Masih Menggantung

Wujud Konsistensi Masyarakat Jogjakarta Untuk Penetapan (Gambar Diambil di depan Gedung Agung Jogjakarta, Rabu (25/5))

OLEH: FRANSISCUS ASISI ADITYA YUDA (080903491)

             Polemik jabatan Gubernur dan Wakil Gubernur yang langsung dipegang oleh Sri Sultan dan Sri Paduka Paku Alam, hingga kini masih belum menunjukkan titik temu yang jelas. Malah baru-baru ini muncul keputusan dari Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri untuk memperpanjang  jabatan pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai Gubernur hingga tahun 2013. Belum lagi di tambah masalah Sultan Ground yang disertifikasikan atas nama negara tanpa sepengetahuan pihak Keraton Jogjakarta. Sungguh Ironis, Kota Jogjakarta yang selalu berkontribusi positif demi kemajuan bangsa ini bagaikan menelan pil pahit atas kejadian ini.

            “Sebenarnya justru semakin menunjukkan manajemen pemerintahan yang buruk”, ujar Widhihasto Wasana Putra, Pemimpin Gerakan Rakyat Mataram.

            Menurut Widhihasto hal tersebut dikarenakan tidak ada koordinasi yang jelas antara kepala dengan tubuh, Direktorat Jenderal Otonomi Daerah Kemendagri sudah menyatakan perpanjangan tetapi di lain pihak ada yang mengatakan masih wacana.

            Kembali merunut sejarah, sebenarnya hak keistimewaan kota Jogakarta sudah di miliki sejak zaman sebelum kemerdekaan. Status Kerajaan sudah, Jogjakarta miliki sejak zaman penjajahan, mulai dari VOC , Republik Belanda-Perancis, Kerajaan Inggris, Hindia Belanda dan terakhir zaman penjajahan Tentara Jepang. Pada zaman penjajahan Belanda status kerajaan yang dimiliki oleh Jogjakarta disebut sebagai Zelfbestuurende Lanschappen dan disebut dengan Koti/Kooti pada zaman penjajahan Jepang. Status kerajaan tersebut membawa konsekuensi hukum dan politik berupa sebuah kewenangan untuk mengatur dan mengurus wilayah atau negaranya sendiri, namun tetap di bawah pengawasan pemerintah penjajahnya. Berkat Status kerajaan itu  pula oleh Soekarno, kemudian diakui dan di beri payung hukum sebagai sebuah daerah bukan lagi sebagai negara.

            Fakta sejarah lain juga menunjukkan hal serupa, sesuai dengan Maklumat 5 September 1945, salah satu poin penting bahwa Kesultanan Yogyakarta dan Kadipaten Pakualaman bergabung ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sultan berhak dan bertanggung jawab mengelola pemerintahannya sendiri dan berhubungan langsung dengan pemerintah pusat. Berawal dari hal itulah pengisian jabatan Gubernur Daerah Istimewa Jogjakarta adalah Sri Sultan.

            Ditemui dikantornya (25/5), Widhihasto mengatakan bahwa dari aspsek manapun, sejarah, yuridis dan filosofi adalah mengarah kepada penetapan, hal itu didukung pula oleh piagam penetapan kedudukan yang dikeluarkan pada zaman pemerintahan Soekarno dan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 pasal 18b ayat 1.

            Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 pasal 18 b ayat 1 itu berbunyi Negara mengakui dan menghormati satuan-satuan pemerintahan daerah yang bersifat khusus atau bersifat istimewa yang diatur dengan undang-undang.

            Kita juga tahu, bahwa polemik yang terjadi hingga saat ini juga terkait pernyataan Sri Sultan tentang rencana pengundurun dirinya untuk tidak menjabat sebagai Gubernur lagi. Berkaitan dengan hal tersebut, Widhi menyatakan bahwa pernyataan Sri Sultan tersebut mengandung arti bahwa beliau tidak mau dicalonkan kembali, tetapi langsung saja di tetapkan, itu hanya permasalahan pemilihan diksi dan kata. Widhi juga menambahkan bahwa dirinya juga tidak mau berspekulasi, apakah beliau mau atau tidak. Tapi yang jelas, rakyat Jogjakarta menginginkan penetapan.

            Sebuah polling opini publik yang dilakukan sebelum artikel ini di turunkan dengan mengambil sampel masyarakat Jogjakarta, bahwa 94,67 persen responden menyatakan setuju penetapan Sri Sultan dan Sri Paduka Paku Alam sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur tanpa adanya proses pemilihan.

            Hingga kini draf Rancangan Undang-undang Keistimewaan masih berada di tangan Komisi II untuk diproses. Namun yang jelas, setelah mencermati daftar isian masalah, sembilan fraksi yang setuju dengan penetapan, pembahasannya bukan lagi soal pemilihan atau penetapan. Tetapi konsep Gubernur utama dan mekanisme pencalonan itu dihapuskan. “mereka mengingkan pasal itu di hapus, namun sebenarnya sama saja, mereka ingin kembali ke penetapan”, ujar Widhi.

            Widhi menambahkan, hal ini merupakan sinyal yang bagus, namun kembali lagi kepada pemerintah. Tetapi pihaknya akan terus mengawal sidang Komisi II. Hal serupa juga akan di lakukan oleh seluruh masyarakat Jogjakarta, dengan semangat Ijab Qbul sesuai dengan amanah HB IX, mereka akan terus memperjuangkan hak keistimewaan untuk Kota Jogjakarta, karena pada dasarnya pegangan hukumnya sangat jelas, Piagam Penetapan Kedudukan dan Amanah Ijab Qbul HB IX.(adt)

Detik-detik Mencapai Kesempurnaan Hidup Di Hari Raya Waisak

Paskalia Ditha Ratnasari (08 09 03685)

MAGELANG – Tepat pada saat Purnamasidhi (bulan purnama) di bulan Waisak, hari Selasa (17/5), umat Buddha di seluruh dunia merayakan Tri Suci Waisak 2555 BE/2011 dengan tema “Mencari Kebahagiaan dan Kedamaian Dari Dalam Diri Sendiri”. Pada saat peringatan Tri Suci Waisak, umat Buddha kembali memperingati, mengagungkan, dan memuliakan tiga peristiwa agung yang terjadi pada saat Purnamasidhi dan bulan yang sama.

Setiap tahun, umat Buddha di Indonesia maupun dari luar negeri dengan penuh rasa bakti datang ke Candi Borobudur untuk memuja Keagungan Buddha pada Hari Tri Suci Waisak dalam upacara Waisak nasional. Selain itu, dalam memperingati Waisak, tidak hanya umat Buddha saja, melainkan banyak masyarakat non-Buddha dan banyak wisatawan mancanegara yang ingin ikut andil dalam hari raya Waisak ini. Hari Tri Suci Waisak adalah hari suci teragung yang mengandung hikmah tentang puncak perjuangan seorang umat manusia untuk menemukan kebahagiaan tertinggi demi membebaskan semua makhluk dari belenggu penderitaan. Demikian Hari Tri Suci Waisak hendaknya menjadi inspirasi dalam kehidupan sehari-hari untuk menggapai kebahagiaan yang sejati untuk mendapatkan kesempurnaan hidup dengan cara mengisinya dengan berbagai kebajikan kepada semua makhluk.

Hari Selasa (17/5), acara dimulai pukul 08.00 WIB sampai dengan pukul 20.30 WIB di Candi Borobudur. Walaupun hujan deras sempat membasahi pelataran candi Borobudur sekitar pukul 19.00 WIB, umat Buddha tetap khidmat dalam menjalankan ibadahnya. Setelah berkumpul, berdoa, dan merenung, umat Buddha diajak untuk memperingati detik-detik Waisak 2555 BE dengan melakukan meditasi mulai pukul 18.10 WIB sampai selesai. Setelah melakukan meditasi, dilanjutkan dengan pemberkatan dan pradaksina, kemudian pelepasan lampion ke udara.

Dalam perayaan tersebut, Ketua Umum Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia, Maha Bhiksu Dutavira Sthavira menyampaikan kata sambutan yang berisikan Makna Hari Raya Waisak. Salah satu maknanya adalah memperingati hari pencapaian sempurna seorang manusia menjadi Buddha (Anuttara Sanyaksamboddhi), melalui proses pemutusan semua kekotoran batin dan memahami hakikat kehidupan (588 SM). Dengan jalan menerima segala sesuatu yang ada dalam kehidupan kita sebagaimana adanya, akan membawa kita pada keseimbangan batin untuk mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan dalam diri sendiri.

“Hari Waisak mempunyai makna dan arti yang sangat dalam sekali bagi umat Buddha dan orang-orang yang mencari jati diri. Hyang Buddha telah menemukan dan mengajarkan Dharma (hukum perbuatan, hukum dimensi waktu, hukum saling ketergantungan atau interdependensi) yang sangat mulia dan agung yang dapat membebaskan semua makhluk dari lautan samsara kelahiran dan kematian. Setiap orang yang menjalankan Dharma akan mendapatkan kebahagiaan pada awalnya, kebahagiaan pada pertengahannya, dan kebahagiaan pada akhirnya. Dengan demikian sebagai umat Buddha yang saleh seharusnya bisa menjadikan Dharma Hyang Buddha sebagai jalan hidup (the way of life) untuk menemukan kebahagiaan kehidupan dan menemukan jati dirinya”, tutur Maha Bhiksu Dutavira Sthavira, Ketua Umum Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia. Hal tersebut merupakan salah satu modal utama agar dapat menuju kepada pencapaian akhir, yaitu kesempurnaan hidup.

Waisak akan sangat bermakna jika kita mau merenungkan kembali ajaran yang telah diajarkan oleh Hyang Buddha. Kita menjadikan hari raya Waisak sebagai sarana untuk introspeksi diri, melihat segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Sehingga semangat Waisak dapat membawa perubahan terhadap semua aspek diri kita dan kehidupan kita.

Dalam renungan Waisak tentang Pencerahan Pikiran, YM Bhikshu Tadisa Paramita Mahasthavira berkata, “Hati dalam ajaran Buddhis disebut sebagai Panca Skandha (terdiri dari: rupa, perasaan, pikiran, pencerapan, dan kesadaran). Pahamilah bahwa semua karma berasal dari aktivitas hati, Hati khayal yang menampakkan, Hati diskriminasi yang membedakan ciri, Hati melekat yang menjadikan, Hati bodoh yang membuat derita, Hati bijak yang menetralisirkan, Hati sunya lenyaplah fenomena, Hati murni bebas dari rintangan dualitas, Hati cerah menerangi segala realita kebenaran sebagaimana adanya”.

Dalam peringatan hari Waisak, terdapat makna yang mendalam yang disampaikan lewat sepatah dua patah kata oleh Bhikkhu Pabhākaro. Beliau berkata, “Setelah menemukan kebenaran sejati (Dhamma) yang dapat membebaskan manusia dari penderitaan, sang Buddha Gautama berkelana untuk mengajarkan Dhamma demi kebahagiaan dewa dan manusia. “Terbukalah pintu kebahagiaan abadi bagi mereka yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan”. Tiga peristiwa itu, memberikan gambaran kepada kita bahwa begitulah proses kehidupan. Setelah lahir, tumbuh dan berkembang lalu akhirnya harus meninggal. Dalam kehidupan manusia mengalami berbagai macam hal, seperti kegagalan, ketengangan mental, keputusasaan, kejenuhan, dan lain sebagainya yang memaksa manusia untuk terbebas dari kondisi tersebut dan menggantinya dengan konsep-konsep kebahagiaan dengan ukuran yang berbeda-beda. Keindahan jasmani, pemuasan nafsu, pencarian tempat-tempat hiburan, penumpukan materi dan lain sebagainya yang tidak dapat disebutkan keseluruhan menjadi obsesi umat manusia dalam berusaha mencari  kebahagiaannya. Berbagai macam usaha yang dilakukan umat manusia untuk mewujudkan kebahagiaan tersebut, tidak mampu memenuhi kebutuhan akan kebahagiaan itu. Justru hal tersebut membuat manusia terjerat dalam keserakahan, monopoli, ketidak-adilan, dorongan mengahncurkan sesama dan pemuasan akan nafsu yang tiada habisnya. Demikianlah umat manusia mencari kebahagiaan dengan cara-cara salah yang hanya mendapatkan kebahagiaannya sekejap mata. Sesungguhnya sang Buddha telah mengajarkan bagaimana mencari kebahagiaan yang sejati. Kebahagiaan yang sejati sesungguhnya berada di dalam hati, dimana batin ini mampu melenyapkan nafsu, memiliki kebahagiaan yang sederhana dengan memiliki rasa puas, akhirnya batin mampu melepaskan ketamakan, kebencian, iri hati, pemuasan, keserakahan, kegelapan batin sehingga batin begitu damai dari hiruk-pikuk duniawi.” Beliau juga menegaskan bahwa Siddharta berarti “Tercapailah segala cita-citanya”.

 

Kiprah Telepon Umum “Coin” Kian Tenggelam

Bagaikan Buku Gambar

Oleh Beatrix Dewan 080903492

“Habis manis sepah di buang”. Yang baru datang, yang lama di buang. Kira-kira begitulah kondisi Telepon Umum “Coin” atau yang biasa disingkat TUC di Indonesia. Padahal, di era 90an, telepon umum koin menjadi primadona. Hampir seluruh warga Indonesia menggandrunginya. Pada masa keemasannya itulah, telepon umum koin menjadi alat komunikasi yang paling sering di akses masyarakat.

Kini, kiprah telepon umum koin seakan tenggelam terbawa arus teknologi komunikasi digital dan modern. Melesatnya penetrasi telekomunikasi seluler menjadi penyebab masyarakat semakin jarang menggunakan sarana telepon umum koin. Teknologi komunikasi tak berhenti beranak pinak dari waktu ke waktu. Kemajuannya yang pesat bak aliran sungai yang tak bisa lagi dibendung. Aneka jenis dan bentuk alat komunikasi modern terus membanjiri kehidupan manusia.

Aku Pilih Yang Kecil Aja

Di Yogyakarta, pos telepon umum koin nampak sepi pengunjung dan tidak terawat. Beberapa unit telepon umum koin bahkan tidak lagi berfungsi dan rusak. Trotoar tempat dibangunnya pos telepon umum koin menjadi tidak sedap di pandang mata dan jauh dari perhatian masyarakat. Box telepon yang seharusnya dirawat dengan baik, kini tidak sebagus dulu. Banyak coretan hasil karya tangan-tangan tidak bertanggung jawab di dinding box. Bahkan, tidak sedikit gagang telepon hilang entah ke mana.

Serupa Tapi Tak Sama

Jumlah telepon umum koin diberbagai daerah juga terlihat semakin menyusut, bahkan pengadaannya di beberapa daerah dihentikan. Hal ini membuktikan bahwa pasal 17 Kepmenhub No. 20/2001 dan 21/2001 juga sudah mulai diabaikan oleh pihak terkait karena dirasa ketinggalan jaman dan tak lagi relevan. Pasal ini menyatakan bahwa pemilik lisensi telepon tetap diwajibkan membangun telepon umum 3% dari kapasitas terpasang dan 1% diantaranya adalah telepon umum koin.

Tanpa disadari, sifat Hi-Tech industri media berdampak langsung pada tataran regulasi telekomunikasi. Regulasi pasal 17 Kepmenhub No. 20 tahun 2001 dan 21 tahun 2001 menunjukan bahwa regulator tak mampu mengimbangi akselerasi perubahan teknologi. Pada masa regulasi itu di buat, angka 3% masih relevan, tapi tidak lagi relevan untuk masa sekarang. Angka 1% untuk telepon umum koin sangat menyulitkan operator. Setting telepon umum koin sulit dilakukan oleh pihak operator karena ukuran dan jenis koin yang selalu berubah-ubah. Selain itu, kepemilikan koin di masyarakat juga semakin tersisih.

Meski tarif lokalnya murah, masyarakat merasa enggan mengakses telepon umum koin karena semakin sulit menemukan telepon umum koin yang bersih, nyaman, dan waras. Masyarakat juga merasa privasi mereka kurang terakomodir ketika menggunakan telepon umum koin. “Box telepon yang terlalu terbuka dan jarak antar telepon yang terlalu dekat membuat tidak nyaman,” ungkap Intan, mahasiswa salah satu universitas negeri di Yogyakarta.

Bagi operator, tingginya tingkat vandalisme menyebabkan biaya perawatan telepon umum koin membengkak. Padahal, harga yang ditetapkan dan dibebankan kepada masyarakat sangat murah, Rp 100,00 per pulsa. Bagi masyarakat, buruknya kondisi telepon umum membuat mereka enggan menggunakannya. Inilah keadaan dilematis dalam bidang telekomunikasi yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.

Kedepannya, diharapkan semua pihak yang terlibat harus segera menentukan langkah untuk menyelamatkan eksistensi keberadaan fasilitas public ini. Regulator harus segera melakukan kaji ulang regulasi agar tidak lagi jadul. Sementara, operator harus menyiapkan inovasi agar telepon umum kembali diminati. “Jangan hanya melihat pengguna telepon umum diperkotaan, tapi lihat juga yang tinggal di daerah sub urban. Mereka masih menggunakan dan membutuhkan telepon umum koin,” ujar Dela mendukung eksistensi telepon umum koin. (bee)

Kledokan, Never Ending Kos-kosan

Nama: Hendrika Windaryati

080903638

 

Jogja – Predikat Jogja sebagai kota Pelajar membuat  banyak perguruan tinggi tersebar disini, salah satu kawasan yang menjadi pusat pendidikan adalah kawasan Babarsari kehadiran beberapa perguruan tinggi swasta di kawasan Babarsari nampaknya membawa dampak yang cukup positif bagi perekonomian masyarakat sekitar, banyak bisnis tersebar disini, salah satu yang menonjol adalah bisnis Kos-kosan.

 

Setiap tahun ratusan mahasiswa berdatangan dari seluruh daerah di Indonesia untuk menimba ilmu dan menetap di kawasan ini. Hal ini membuat dari tahun ke tahun kawasan Babarsari terus berkembang pesat. Dikarenakan banyak pendatang yang notabene mahasiswa memenuhi kawasan ini memicu berbagai jenis usaha bertumbuh mulai dari usaha warnet, warung, cafe, dan kos-kosan yang merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi mahasiswa pendatang. Ini menjadi  dampak yang menguntungkan memang bagi perekonomian masyarakat.

 

Jika kita berjalan di  Kledokan yang merupakan salah satu kawasan di  Babarsari kita akan di suguhi pemandangan yang didominasi oleh plakat  yang tertera nama kos-kosan, kalimat seperti “terima mahasiswi” atau “ada kamar kosong”. Kledokan memang merupakan wilayah di babarsari yang didominasi oleh kos-kosan baik yang berbentuk kos-kosan secara utuh maupun yang tergabung dengan rumah pemilik kos-kosan. Menurut Tuti (56) warga asli kledokan dulunya kos-kosan tidak sebanyak sekarang “ dulu tuh sepi banget disini mbak, jalanan juga tidak seperti sekarang masih tanah, tapi sekarang pesat banget perkembangannya mulai dari tahun 2000an  seingat ibu pasti ada tambahan kos-kosan dimana-mana ” ujarnya.

 

Pesatnya perkembangan kos di Kledokan di tengarai karena daerah ini cukup strategis sebagai tempat tinggal mahasiswa yang rata-rata kampusnya memang terdapat di wilayah Babarsari seperti Universitas Atma Jaya, Universitas Pembangunan Negara, Unversitas Proklamasi dan Universitas Respati. Di tahun 2011 di kledokan  teradapat 3 kos-kosan  putri yang  baru beroperasi dan tidak butuh waktu lama kos-kosan tersebut sudah terisi penuh oleh mahasiswa. Hal yang sama juga di alami oleh Kos putri Asem Bagus yang terletak di kledokan CT XIX D 79. Kos-kosan ini terus mengalami penambahan kamar karena banyaknya peminat yang ingin tinggal di kos ini,  Menurut Mardi (48) selaku penjaga Kos mengatakan kos ini sudah empat kali mengalami penambahan kamar, dari tahun 2003 yang hanya berjumlah 25 kamar meningkat terus hingga berjumlah 96 kamar dan saat ini lagi dalam proses pembangunan 4 kamar baru, jika sudah selesai di bangun jumlah kamar di kos ini  berubah  menjadi 100 kamar.

Tarif kamar kos yang berada di  daerah Kledokan rata-rata mematok harga  Rp 300.000 – Rp 500.000/ bulan yang di bayar per tiga bulan atau per enam bulan secara langsung. Tarif Kos ini tidak bersifat tetap, Menurut Lia salah satu penghuni kos asem bagus  Sejak dia mulai kos di kos-kosan ini 3 tahun yang lalu ia sudah mengalami dua kali kenaikan tarif kos, biasanya kenaikan terjadi di saat tahun ajaran baru berlangsung. “ Awal pas masuk tuh kosnya Rp 300.000 per bulan terus naik jadi Rp 325.000  per bulan nah  pas Juli ini nih yang naiknya drastis banget dari Rp 325 ribu jadi Rp 400.000 per bulan” Ujarnya. Namun harga yang relatif mahal ini tidak mempengaruhi jumlah orang yang ingin tinggal di tempat ini.

Menurut Mardi Lebuh lanjut Fasilitas yang di tawarkan oleh kos ini yang mungkin menjadi faktor orang tertarik untuk tinggal di tempat ini. “Fasilitasnya lumayan lengkap disini semuanya udah di sediain, listrik juga udah termasuk biaya per bulannya, jadi banyak yang senang disini,” ungkapnya. Melihat masih adanya lahan kosong kawasan ini, tidak menutup kemungkinan pembangunan kos-kosan akan terus bertambah di masa mendatang. Kos-kosan akan menjadi bisnis yang tetap menjanjikan selama mahasiswa tetap ada.  (HNY )

Komunitas Media Tanpa Batas

Natalia Eka Jiwanggi 03453

“Draw on any surface, salah satu esensi dari street art, yakni media tanpa batas”, ujar Gandhi Setyawan (22), salah satu anggota Writer Super Team. Komunitas street art ini telah menjadi patokan bagi komunitas street art lain dalam menorehkan seni di jalanan Yogyakarta.

Berdiri pada tahun 2007 dan berlokasi di Yogyakarta, Writer Super Team yang sering disingkat WST menjadi anakan dari komunitas street art Yogyakarta Art Crime (YORC). YORC sendiri merupakan komunitas street art  yang memiliki ideologi art crime yang melihat seni jalanan sebagai aksi kriminal dalam skala kecil. “Bisa dibilang vandalisme namun tetap memikirkan estetika seni”, ujar Rolly (32), salah satu tetua YORC. Dalam komunitas seperti ini, tidak ditunjuk ketua yang mengkoordinasi kegiatan, hanya beberapa orang saja yang memang sudah lama aktif dan disegani oleh anggota lain.

Kelahiran WST diawali oleh pemikiran para dedengkot grafiti Jogja, seperti ‘Deka’, ‘Mads’ dan ‘Love Hate Love’ yang sudah malang melintang di dunia street art ini. Mereka bertujuan untuk mengkomersilkan street art agar dapat menghidupi sisi lain dari egonya. Lama kelamaan, WST keluar dari YORC karena masalah perbedaan kepentingan dan pandangan mengenai street art sendiri. Apakah berdiri di jalur crime atau jalur komersil. Mereka lepas dari YORC agar egonya dapat tetap berjalan, seperti menghasilkan uang untuk menggambar dijalanan tanpa meminta dari orang tua.

Walau hanya tersisa 11 orang, WST tetap menjalankan aktivitasnya sebagai seniman jalanan. “Jumlah kami emang dikit, tapi malah lebih solid satu sama lain”, ungkap Gedhek, ketua WST. Kalingga (27), nama asli dari Gedhek, juga memiliki nama jalan seperti artis street art lainnya, yakni ‘Silencer Eight’. Ada pula yang bergabung dalam WST, seperti Gandhi ‘Rasefour’, Damar ‘Da Masta’, Dido ‘Artz, Dandul ‘Age’, Adhit ‘Tes Two’, Theo ‘Sale Seven’, dan Putra ‘Sims Two’.

“Kami nggak ada kegiatan rutin. Cuma kalau lagi pengen nggambar ya langsung bareng-bareng nggambar”, ujar Gandhi (22), salah satu anggota aktif WST. “Biasanya kami berkumpul di kontrakan, terus langsung jalan cari spot nggambar”, tambahnya. Mereka memiliki basecamp di kontrakan milik Gedhek di daerah Mrican. Walau tidak terlalu besar, cukup untuk tempat mereka mengobrol dan berkarya.



Karena merupakan komunitas yang dapat dikatakan komersil, mereka mencari dana melalui karya seni yang dibuat. Beberapa aktivitas dilakukan secara aksidental atau mendadak karena tidak ada agenda bulanan. Seperti perform di acara semacam Let’s Dance, menjadi designer untuk interior cafe, designer kaos dan menyablonnya sendiri, produksi tas karton atau kanvas, membuat e-magz seputar dunia street art hingga menjadi salah satu pelopor sepatu lukis di Indonesia. “Kami bermain di berbagai media, batu aja pernah kami gambarin”, pungkas Gandhi. “Draw on any surface, salah satu esensi dari street art, yakni media tanpa batas”, tambahnya.

Tidak hanya lelaki saja yang bergabung dalam WST, ada dua perempuan yang mengurus manajemen. Afie dan Ucik telah menjadi anggota cukup lama, semenjak WST dibentuk. “Saya menyukai street art dan cocok dengan anggota yang lain, jadi ya saya kerasan disini. Berasa rumah sendiri dan malas pulang. Hehehe”, tutur Ucik (21). Kebanyakan street art memang laki-laki, tapi disini perempuan diberi ruang sama luasnya.

“Kami sering diminta bikin mural untuk promosi acara tertentu. Seperti yang sudah-sudah, kami buat mural untuk acara Yogya Gamelan Festival, atau Bienalle Yogya”, ungkap Kalingga sembari memperlihatkan hasil karya mereka. Karena tuntutan profesionalitas dan sisi perfeksionis yang dimiliki tiap anggota, hasil karya seni yang dibuat tidak main-main. Walaupun hanya menggambar untuk kesenangan pribadi, hasilnya juga tetap dibuat sesempurna mungkin. “Susahnya, kami ini perfeksionis semua. Jadi kalau nggambar harus totalitas, dan kalau lagi nggak mood mending nggak usah nggambar sekalian”, tambahnya.

Sebagai seniman jalanan, media yang digunakan pun tidak terbatas. Tembok rumah, gedung atau tembok jalanan, tembok fly-over, tiang listrik, bahkan jalanan itu sendiri. “Semua media yang masih bisa digambarin, kami hajar”, ujar pria yang akrab dipanggil Gedhek karena kepalanya sering gedhek-gedhek­ sendiri. “Tapi paling sering kami menggambar di tembok rumah atau toko orang. Mereka jarang marah kalau tembok kosongnya digambarin. Ada yang senang, tapi juga ada yang cuek. Itu enaknya nggambar di Jogja, orangnya welcome banget dengan senimal kaya kita”, jelasnya.

Dapat dikatakan bahwa sebagian besar seni jalanan itu ilegal karena dianggap mengotori pemandangan. Tetapi bukan Jogja kalau tidak melegalkan seni seperti ini. Jogja dianggap sebagai salah satu kota yang tidak terlalu ketat dengan aturan seni jalanan. Banyak seniman jalanan dari luar kota yang menetap di Jogja karena masih banyak tempat kosong yang dapat digambari. Seperti Bienalle Yogya yang memamerkan karya seni seniman Jogja di jalanan dengan berbagai macam media, sebutannya unconventional media. Jogja dikenal dengan seninya yang beragam dan unpredictable. Iklim seperti inilah yang mendukung para seniman jalanan seperti komunitas WST untuk terus berkarya.

Tembok kosong atau tembok yang strategis biasanya sering diincar oleh para seniman jalanan. Sama halnya oleh WST, yang jeli dengan letak-letak strategis tembok di Jogja. “Biasanya salah satu dari kami dapat incaran tembok bagus. Langsung aja bikin sketch, beli cat dan pilox, terus eksekusi deh”, ujar Rasefour, pria berkacamata yang juga anak iklan. Tidak semua tembok yang digambari harus bersih awalnya. Kebanyakan malah sudah penuh oleh gambar lama, dan ditumpuk oleh mereka. “Gambar yang kami tumpuk itu gambar anak-anak baru. Ada sedikit senioritas dalam hal ini”, tambahnya. WST, sebagai senior, anak lama dalam grafiti Jogja, sangat dipandang oleh anak-anak baru. Mereka jadi contoh untuk mengembangkan style dan skill anak baru. Sehingga, biasanya WST menumpuk gambar anak baru yang sudah lama berada disitu.

Salah satu hambatan yang sering dialami saat nggambar di jalanan adalah ketahuan polisi setempat. “Ketahuan polisi memang paling menyebalkan. Bisa ganggu mood ngambar kita”, ungkap Kalingga yang juga seorang graphic design. “Ketahuan polisi sih biasa. Nanti cuma ditanyain lagi ngapain, gambar apa, sudah ijin atau belum. Habis itu dilepas kok. Yang paling sering ketangkep tuh si Putra”, ujar Kalingga sambil menunjuk pria yang juga anak band punk metal dengan bercanda.


Lokasi di Jogja yang pernah mereka gambar, seperti Jembatan Layang Lempuyangan dan Janti, tembok di daerah Gejayan, Sagan, Malioboro, cafe Buzz di Babarsari dan cafe Bunker di sebelah Hotel Saphir. Beberapa diantaranya masih ada dan belum dihapus atau ditumpuk oleh gambar lain. Sehingga karyanya masih dapat kita nikmati bersama.


Konflik antar komunitas street art memang tak dapat dihindari, apalagi kalau soal lokasi gambar. WST pernah punya masalah dengan seniman jalanan lain karena gambar mereka di tiban. Sebagai seorang seniman, mereka mengekspresikan kemarahan dengan gambar, yakni jari tengah tangan tengkorang yang mengacung ke atas. Memang cukup frontal dalam membalas kemarahan, tetapi bagi mereka, dunia yang dijalani saat ini jauh lebih kejam. “Mereka semena-mena menumpuk gambar kami, padahal saat itu mood nggambar kami lagi bagus. Jadi hasilnya sangat memuaskan. Eh, malah ditumpuk, gambarnya jelek lagi”, kesal Adhit yang juga ikut nggambar.



Tidak hanya memiliki kenalan dengan komunitas street art di Jogja. Komunitas street art lain seperti di Jakarta, Bandung, Solo, Surabaya, bahkan dari luar negri, seperti New York, Belanda, Itali dan Perancis pun kenal dengan WST. “Kami memang cukup dikenal oleh komunitas lain. Biasanya kami nggambar bareng, terus disambung ngobrol-ngobrol seputar grafiti dan mural di Jogja”, jelas Gedhek. “Kami dapat kenalan dari teman. Bangga campur senang kalau ketemu mereka, apalagi yang dari luar negri. Bule dari Itali malah kaget dengan keadaan di Jogja yang penuh dengan grafiti dan mural”, tambahnya.

Perkembangan dunia street art semakin meluas dan bertransformasi menjadi lebih kompleks. Semakin banyak anak muda yang tertarik untuk terjun di dunia ini, dengan skill dan style-nya masing-masing. “Grafiti Jogja sekarang makin bagus aja. Style-nya makin berkembang dan variatif”, pungkas Gandhi. “Hanya saja, gambar mereka kurang terkonsep dengan baik, sehingga terlihat asal-asalan. Attitude mereka juga masih kurang, kadang-kadang sisa piloxnya nggak diberesin”, tambahnya.

Anak baru memang belum mengerti betul mengenai dunia street art secara menyeluruh. Untuk itu, WST ingin membantu mereka agar lebih mengembangkan bakat dan menjaga tingkah laku saat menggambar dijalanan. Selain itu, WST ingin agar seniman jalanan seperti mereka dihargai oleh masyarakat. Karena gambar dijalanan itu bukanlah sampah dan mengganggu pemandangan. “Grafiti dan mural itu seni. Seni mengekspresikan masalah lewat media seperti tembok jalanan. Bukannya corat-coret nggak jelas, itu namanya vandalism, bukan seni”, jelas Gedhek. Seni itu luas, abstrak dan subyektif. Sehingga pandangan tiap orang akan berbeda. Semuanya diserahkan kepada masyarakat yang menilai baik buruknya karya seni para seniman jalanan seperti WST.

Semua Hanya Modal Cangkem

Tak perlu modal besar untuk membangun komunitas ini, hanya perlu suara Cangkem (mulut), niat, dan kekompakan untuk menjadi sebuah komunitas yang solid sekaligus menyumbangkan prestasi mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Tak peduli batasan umur dan jenis kelamin, komunitas ini mampu menjebatani setiap orang yang ingin berkreasi melalui musik. Komunitas ini lahir melalui aliran musik yang tidak biasa dan kreasi mereka tidak terhalang oleh keberadaan alat musik. Musik yang mereka mainkan dihasilkan melalui kekompakan suara yang dihasilkan oleh mulut, yang biasa disebut masyarakat sebagai acapella. Nama Acapella itu sendiri lahir sebagai sebuah karya musik yang  mengolah berbagai kemungkinan suara yang di hasilkan oleh mulut, karya ini pernah tenar di Eropa pada masa revolusi silam. Di Indonesia sendiri tidak banyak komunitas musik yang mengambil acapella sebagai jalur pilihan berkarya, namun justru karena inilah lahirlah Komunitas acapella unik dari Yogyakarta biasa masyarakat kenal sebagai komunitas Acapella Mataraman.

Komunitas acapella yang lahir pada lima belas tahun silam di kota Yogyakarta ini sepintas tidak berbeda dengan grup acapella yang biasa kita temui di eropa. Namun yang menjadi daya tarik tersendiri adalah komunitas ini justru mengangkat spirit musik tradisi nusantara yang dikemas menjadi musik yang unik dinamis dan kreatif. Kebanyakan instrument musik yang dimainkan olek komunitas ini mengambil suara alat musik nusantara yang cenderung mengarah pada suara-suara etnik. Acapella ini mengambil kata Mataraman untuk menamai komunitasnya tidak lain sebagai wujud identitas baru atas interpretasi acapella itu sendiri (acapella yang merakyat dan sangat Indonesia), selain itu penamaan ini juga merujuk pada permainan komedi gaya dagelan mataraman yang melahirkan humor-humor segar yang dikenal dengan guyon maton parikeno (lelucon yang nakal). Akhirnya kekuatan bunyi dengan lirik nakal namun cerdas inilah yang menjadi daya tarik utama Acapella Mataraman.

Komunitas ini lahir atas inisiatif Fredy Pardiman, awalnya komunitas ini terlahir dari sebuah keterbatasan. Keterbatasan itu berupa alat musik, tempat latihan, pemusik dan uang yang diharapkan mendukung proses bermusik dengan latar belakang musik tradisi. Situasi ini dialami Fredy Pardiman ketika kuliah di Jurusan Karawitan ISI Yogyakarta pada awal tahun 90-an. Ide membentuk komuitas ini berawal dari adanya permintaan seorang mahasiswa Jurusan Tari untuk membantu menata iringan ujian koreografi, Fredy Pardiman kesulitan untuk mendapatkan pemusik dan tempat latihan musik. Karena banyak mahasiswa tari yang juga mempersiapkan ujian yang sama, latihan musik pun tidak berjalan seperti yang diharapkan. Buntutnya Fredy Pardiman kebingungan yang berbuah stress. Dikejar oleh waktu, Fredy Pardiman memutuskan untuk tidak menggunakan gamelan sebagai alat musik dalam garapannya. Tetapi memindahkan suara-suara alat musik gamelan kedalam bentuk permainan vokal. Di luar dugaan permainan gamelan mulut yang dilakukan karena “keterpaksaan” ini ternyata memberikan hasil yang menarik dan memunculkan ide baru dalam penggarapan karya musik. Alhasil, Fredy Pardiman banyak mendapat pujian dan masukan positif yang mendukung dirinya untuk meneruskan musik gamelan mulut. Penampilan pertama gamelan mulut sebagai sajian musik tunggal datang pada saat Dies Natalis ISI tahun 1992, saat itu Fredy Pardiman berkesempatan mementaskan gamelan mulutnya yang diberi nama gamelan cangkem.

Beberapa tahun berlalu karir seni komunitas ini makin menanjak. Tahun 1996, Fredy Pardiman meneruskan perjalanan musiknya dalam kelompok musik KUA ETNIKA. Bersama Kua Etnika yang memberikan ruang bagi pengembangan kreatifitas tiap anggotanya Fredy Pardiman berkesempatan lagi menggelar pertunjukan gamelan mulut-nya pada acara Sketsa-Sketsa Bunyi yang diselenggarakan di Auditorium Lembaga Indonesia Perancis Yogyakarta pada bulan Desember 1997. Dalam pertunjukan tersebut, gamelan mulut karyanya tampil impresif dan megocok perut penonton dengan menghadirkan “nJeplak Thung-thung” dan “Oral Kambang”. Butet Kertaradjasa sebagai pembawa acara dalam pertunjukan ini secara spontan di atas panggung memberi label Acapella Mataraman pada permainan musik mulut karya Fredy Pardiman. Dan berawal dari ini pula Freddy berusaha mengembangkan seninya sekaligus menularkan bakatnya pada penerusnya untuk dapat sukses seperti dirinya. Pada tahun 1998 akhirnya Freddy berinisiatif memiliki sanggar dan membuat komunitas yang terbuka bagi siapapun untuk dapat belajar mendalami kesenian acapella etnik. Akhirnya gayung pun bersambut, pada tahun ini lahirlah StudioOmah Cangkem tepatnya di desa Karangjati, Bangunjiwa, Kasihan, Bantul. Freddy mengakui sanggarnya tidaklah besar namun setidaknya harapannya untuk memiliki wadah kreatifitas sudah terwujud.

Dengan berdirinya sanggar ini harapan untuk memperluas kesenian acapella etnik mulai muncul, sekaligus harapan untuk mengasah seni kaum muda agar makin mencintai karya seni lokal mulai menggebu. Harapan Freddy kini hanya satu agar kaum muda yang mereka bimbing menjadi penerus karya kontemporer dan sekaligus menjaga cagar budaya lokal agar tetap langgeng. Harapan ini muncul karena menurutnya masa muda harus di isi dengan kegiatan yang positif selain belajar tentang kemandirian juga belajar menghormati warisan lokal yang dititipkan kepadanya, belajar berkomunikasi. Dari ide inilah maka komunitas acapella ini mulai membuka diri bagi kaum muda yang ingin belajar. Tanpa disangka ide ini disambut baik oleh kaum muda,  maka banyak pelajar dan mahasiswa dari Sleman, Yogya, dan Bantul yang tertarik untuk mendalami seni ini mulai bergabung dalam kelompok Acapella Mataraman yang dikomandani oleh Pardiman Djoyonegoro. Rata-rata anggota komunitas ini mengaku tertarik mengikuti acapella ini ini karena merasa terpanggil untuk melestarikan budaya Indonesia khususnya jawa. Namun usaha yang dilakukan para pemuda ini juga tidaklah mudah, mereka harus merelakan waktu yang tidak sedikit untuk berlatih dan mengasah pengalaman untuk membuat kompak acapella yang mereka mainkan. “waktu yang kami gunakan tidak akan pernah sia-sia semua terbayar lunas saat pementasan, tepuk tangan penonton merupakan kepuasan tersendiri” ujar Eny Lestari, salah satu anggota acapella mataraman ini menerangkan. Selama ini dengan bertambahnya personel yang masuk, komunitas ini merasa makin kuat dalam komposisi dan musik yang dimainkan melalui mulut juga mulai beragam dan bervariasi. Maka dalam masa keemasan inilah mereka telah melanglang buana hampir di banyak tempat di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Kebanggaan tersendiri ketika karyanya dapat dinikmati seluruh masyarakat.

Seakan tak pernah berhenti berkarya, setelah hampir seperempat abad acapella Mataraman berdiri, barulah pada 24-25 Mei mendatang mendapat kesempatan untuk tampil secara internasional di Singapura. Kominits acapella ini didaulat untuk tampil di ajang internasional yaitu Singapore Arts Festival. Komunitas ini patut berbangga karena akan tampil dalam dua hari berturut-turut dalam sebuah tajuk JavanesseMoonlight yang mengangkat kekayaan kesenian jawa. “Secara personal pentas ke luar negeri sudah sering, tapi dengan membawa grup sendir dan membawa misi untuk budaya Jawa, ya baru kali ini. Dan ini suaru kebanggaan saya” ujar Pardiman Djojonegoro. Dalam kesempatan ini komunitas ini akan membawa delapan personel yang rata-rata memiliki jam terbang tinggi atau yang sudah memiliki mental untuk dipertontonkan di ajang luar negeri semacam festival kali ini. Untuk mempersiapkan segala sesuatunya komunitas ini juga tidak lupa mengadakan gladi bersih pada 19 Mei 2011 kemarin. Selain untuk mempersiapkan mental juga untuk menambah tanggapan dari penonton untuk dapat lebih baik di pementasan sebenarnya di Singapura nanti. Dalam beberapa kritik yang diberikan penonton ada beberapa catatan yang perlu diperbaiki oleh komunitas ini, antara lain persoalan gesture tubuh, ekspresi, tata busana yang hanya satu dan masih banyaknya penggunaan kata-kata lokal yang ditakutkan tidak terlalu relevan di pentas luar negeri nanti.

konser persiapan pentas di Singapura (foto diambil dari antaranews.com)

Untuk pementasan di Singapura nanti acapella besutan Freddy ini akan menampilkan tiga segmen yang dari kesemuanya akan di dominasi oleh komedi menarik sekitar kehidupan Jawa. Segmen pertama akan menghadirkan keceriaan selayaknya anak-anak lewat lagu malioboro, di segmen kedua komunitas ini akan lebih fokus pada kehidupan yang dibalut iringan karawitan dan imaji tentang wayang kulit sekaligus bercerita tentang tingkah polah manusia yang kadang lucu, di segmen ketiga komunitas ini akan menghadirkan karya Njeplak Tung-tung yang bercerita tentang paduan suara yang tidak menurut pada dirijennya. Yang membuat acara malam itu semakin menarik adalah keseriusan para lakon yang ada di dalamnya yang secara penataan suara dan kemampuan berkesenian tidak diragukan lagi, yang akhirnya membuat acara ini layaknya sajian musik orkestra yang menyentuh.

Akhirnya komunitas ini memberikan pelajaran bagi kita semua bahwa membuat karya tidak harus terbatas oleh apapun, bagaimanapun setiap apa yang kita lakukan apabila ada niat di dalamnya niscaya akan berhasil baik sekaligus memberikan kepuasan tersendiri. Selain itu komunitas acapella Mataraman juga memberikan suguhan yang menarik dan inspiratif bagi kaum muda, bahwa kearifan lokal tak harus dinikmati secara konvensional namun terlepas dari itu setiap budaya lokal yang ada dapat dipahami secara menarik apabila mampu dihadirkan secara berbeda.

Yohanes Januadi 08 09 03541