Bentuk Kegiatan Anak Di Ruang Seni

 

Belajar dan bersekolah merupakan salah satu tugas seorang anak. Disekolah anak selalu diberikan berbagai ilmu pengetahuan umum, terkadang anak juga merasa lelah dan jenuh ketika seharian anak tersebut beraktivitas diruang dengan melakukan hal yang sama yaitu belajar.

Pendidikan memang menjadi alat kesuksesan setiap orang, hasilnya pun berupa kreativitas yang dapat ditempuh dengan cara yang berbeda- beda.akan tetapi biasanya wujud kreativitasnya dapat disalurkan di berbagai bidang salah satunya seni. Seni yang sering ditemukan disekolah tidak memiliki ruang terbuka yang cukup untuk bergerak, sehingga siswa pun sejatinya tidak menganggap sebagai salah satu pendidikan yang mengandung banyak nilai.

Jika diperhatikan baik-baik, sebenarnya anak-anak membutuhkan kesempatan untuk menyalurkan kreativitas mereka melalui seni, seperti olahraga, menari, atau bermain musik.  Seni juga dapat berfungsi sebagai melatih keahlian dan mengasah kepercayaan diri anak. Kreativitas dalam seni merupakan cara yang sangat seru untuk berkomunikasi dan bergembira, serta merupakan bagian dari kehidupan yang kaya dan membanggakan.

Berbica pada seni, pentingnya anak untuk belajar seni bukan merupakan hal yang asing, sebab dalam kenyataannya banyak anak-anak yang dinilai kurang mempunyai power ketika belajar dan menerima  materi di dalam kelas. Tetapi disisi lain anak tersebut justru mempunyai semangat dan kemauan yang lebih ketika anak tersebut berada didalam dunia art.

 

Untuk menghilangkan kejenuhan tersebut, sebaiknya sebagai orang tua melakukan dan memberi suatu hal atau ruang yang dapat membuat anak tersebut senang dan mempunyai manfaat bagi dirinya sendiri. Dengan mengenal hobi dan kesukaan anak memang sesuatu hal yang penting bagi orang tua, dengan hal tersebut anak akahirnya pun terhibur, sebab beban yang dirasakan anak tersebut perlahan-lahan akan menghilang karena anak tersebut mendapatkan aktivitas baru yang ia sukai.

Berbicara belajar, sekarang seorang anak juga bisa belajar tidak harus didalam ruangan atau kelas. Maksudnya adalah selain anak belajar tentang ilmu pengetahuan umum, namun ia juga membutuhkan belajar yang berbau seni. Karena disetiap jiwa kita sebagai manusia sebetulnya sama-sama memiliki jiwa seni, hanya saja masih belum bisa menyalurkannya saja. Praktisnya belajar seni adalah anak-anak bisa mempelajarinya dimana saja, hanya saja tetap dibawah arahan dan pantauan orang tua agar orang tua anak mengetahui perkembangan anak itu sendiri. Contoh beberapa kegiatan tersebut seperti sekolah olahraga dan sekolah musik, sebab kedua kegiatan tersebut mempunyai manfaat untuk anak dan ditambah bonus yaitu prestasi, jika anak tersebut mengikuti adu bakat sesuai bidangnya.

 

Olahraga yang satu ini adalah favorit anak yaitu renang. Di Yogyakarta sendiri mempunyai sekolah atau club renang khusus anak. Disana anak diajarkan berbagai gaya seperti gaya bebas, dolpin, dan gaya katak. Hampir semua masing-masing anak menguasai gaya tersebut. Keseruan yang dirasakan anak juga berkat arahan orang tua yang senantiasa ingin menyalurkan hobby anak. Olahraga dapat dibilang sebagai seni, sebab olahraga sendiri juga bisa menampilkan dan mempunyai sisi keindahan.

Selain itu ketika anak mulai jenuh dengan segala aktivitasnya, terdapat cara yang dapat membantu menenangkan pikiran anak yaitu dengan mendengarkan dan bermasin musik. Hal tersebut merupakan salah satu hal yang unik dan menarik untuk diajarkan kepada anak. Untuk menghilangkan kejenuhan tidak hanya dengan bermain game, tetapi dengan kedua aktivitas tersebut merupakan salah satu cara yang positif, selain anak menjadi terhibur juga dapat menguntungkan bagi diri anak sendiri.

Yang terpenting sebagai orang tua harus peka terhadap kebutuhan anak, balajar disekolah memang yang utama, tetapi anak tersebut sebetulnya juga membutuhkan sesuatu hal atau kegiatan yang dapat menyeimbangkan kemampuannya agar bisa setabil. Contoh kasusunya, jika kita tahu atau pernah mengalami, entah itu adik, teman yang dikelas biasanya tidak mempunyai power dengan kata lain tidak mempunyai prestasi disekolah, anahnya ternyata ia jutru sangat berkompeten dalam fashion nya dibidang seni. Dari hal tersebut lebih baik orang tetap mendukung dari kemamapuan yang dimiliki.

Cara Generasi Baru Menjaga Budaya

download (8)

Surakarta-Acara tahunan yang diselenggarakan oleh para generasi muda Solo yang terikat dalam Komunitas Sanggar Tari Soeryo Soemirat, merupakan acara yang ditunggu-tunggu oleh segenap warga Solo dan pecinta kebudayaan jawa

Mangkunegaran Performing Art (MPA), begitu mereka menyebut acara fantastis ini, MPA menyelenggarakan pementasan tari selama 3 hari, pada pementasan kali ini, tidak hanya pemuda pemudi saja yang ikut andil dalam pementasan, namun juga ada anak-anak yang ikut turut serta dalam acara yang digagas oleh G.R.M Paundra Sukmaputra Jiwanegara ini. “saya bangga karena banyak yang terlihat antusias dalam acara ini, semoga dengan adanya acara ini bisa menjaga tradisi Mangkunegaran pada khusunya, dan tradisi Solo pada umumnya” kata putra Mahkota Putra Mangkunegaran yang kerap dipanggil Paundra.

Mangkunegaran mempunyai tradisi yang unik, dan hanya Mangkunegaran yang memiliki tradisi ini, yaitu model menari yang tidak dimiliki oleh Kraton Kasunanan (Solo) dan Kraton Kasultanan (Jogja), seperti yang diungkapkan oleh salah satu pelatih di Soeryo Soemirat “Mangkunegaran itu model tarinya gabungan dari Kraton Jogja, dan Kraton Solo”. Memang benar bila diamati, seperti posisi tangan jika sedang ukel, seorang penari Kraton Solo memiliki ciri khas meletakkan tangan berada di tengah perut, dan Kraton Jogja  meletakkan tangan berada di sisi kanan atau kiri perut, sedangkan Pura Mangkunegaran berada di tengah-tengah dari kedua model tari dari Kraton Jogja, dan Kraton Solo.

SOERJA SOEMIRAT

Soerya Soemirat berdiri berdasarkan gagasan dari GPH. Herwasto Kusumo atau yang kerap dipanggi Gusti Heru untuk mempunyai sanggar tari, maka didirikanlah Sanggar tari ini pada tahun 1982. “Tujuan awal Soerya Soemirat sebenarnya menjadi tempat mencetak penari istana, tapi kemudian disadari ada tujuan yang lebih besar lagi, yakni melestarikan budaya.” Kata Jonet Sri Kuncoro, ketua Sanggar Soerya Soemirat. Adanya angkatan dalam latihan tari di Sanggar Soeryo Soemirat. Setiap pertama masuk, penari akan diajarkan tari dasar seperti tarian gembira, kipas dan pang pung. Selanjutnya, tiap empat bulan sekali para pelatih akan melakukan evaluasi. Dalam proses evaluasi itu, penari yang sudah menguasai tarian dasar akan diajarkan tarian yang lebih rumit seperti tari kidang, kupu, atau golek sri rejeki, hingga akhirnya mereka bisa menguasai tari yang digerakannya tergolong sangat rumit seperti tari serimpi. “Soerya Soemirat bukan tempat mencetak penari tetapi tempat melestarikan budaya. Kebudyaan itu yang nantinya akan mempengaruhi kepribadian si penari, seperti kandungan dari wiraga, wirama, dan wirasa,” lanjut Jonet

Radityo Kusumo Nirbito

130904905

Melestarikan Tradisi Melalui Permainan Sederhana

foto 1

Beberapa anak sedang bermain meriam bumbung,kamis(16/6). Meriam bumbung adalah salah satu permainan tradisional yang dimainkan pada saat bulan Ramadhan-wisangputrahesa

Lung bumbung atau meriam bambu, siapa yang tidak tahu mengenai permainan ini. Permainan ini hanya ada di bulan ramadhan menemani anak-anak yang sedang menunggu waktu untuk berbuka puasa. Lung bumbung atau meriam bambu ini dibuat secara mandiri oleh anak-anak dari desa Wijirejo, Kauman, Pandak, Bantul Yogyakarta, Kamis (16/6)

Waktu berbuka adalah waktu yang ditunggu-tunggu oleh mereka yang menjalani puasa. Banyak aktivitas yang bisa dilakukan oleh masyarakat bila menunggu datangnya waktu berbuka puasa, salah satu kegiatan tersebut adalah dengan bermain. Seperti yang dilakukan oleh anak-anak dari desa Wijirejo, mereka menghabiskan waktu untuk menunggu berbuka puasa dengan bermain meriam bambu bersama-sama. Permainan meriam bambu ini termasuk permainan yang sangat murah. Biasanya mereka memainkan permainan ini mulai dari pukul 15.00 WIB hingga pukul 16.30 WIB yang kemudian disambung dengan kegiatan buka bersama di masjid terdekat.

Sesuai dengan namanya, meriam bambu menggunakan bambu sebagai bahan utamanya. Batang bambu dipotong dengan panjang yang bervariasi sesuai keinginan, kemudian sekat di antara ruas batang bambu tersebut diberi lubang sehingga batang bambu tersebut menyerupai bentuk selongsong senjata. Pada bagian pangkal batang bambu kemudian diberi lubang kecil kira-kira sebesar ibu jari yang nantinya menjadi tempat untuk memantik meriam tersebut.

foto 2

Seorang anak sedang memantik meriam bambu, kamis (16/6). Permainan meriam bambu ini menggunakan api sebagai pemantiknya.-wisangputrahesa

Setelah selongsong jadi kemudian yang harus dilakukan adalah mengisi selongsong tersebut dengan minyak tanah yang adalah amunisinya. Minyak tanah dimasukkan keadalam selongsong melalui lubang yang dibuat dipangkal bambu. Kemudian gunakan potong bambu ukuran kecil sebesar lubang yang berada dipangkal bambu. Setelah semua tersedia maka meriam bambu tersebut siap untuk dimainkan.

“Bermain meriam bambu itu menyenangkan mas”, jelas Surya sembari menyulut kembali meriam bambu miliknya. Suara yang dihasilkan oleh meriam bambu ini beraneka ragam ada yang menggelegar, ada pula yang tidak mengeluarkan suara sama sekali namun mengeluarkan api. Besar kecilnya suara tergantung pada besar kecilnya diameter bambu yang dipilih menjadi selongsong.

Permainan-permainan seperti ini sudah sulit untuk ditemui saat ini, jumlah anak yang bahkan mau memainkan permainan ini sudah sangat jarang. Permainan-permainan tradisional seperti ini sudah mulai tersingkir dengan permainan-permainan modern yang saat ini mulai menjamur di kalangan anak-anak. Zaman memang sudah berganti dan kita ikut berputar di dalamnya akan tetapi melestarikan tradisi adalah sebuah pilihan.

Oleh : Wisang Putrahesa/130904910

NB: video permainan mercon bumbung

Bersekolah di Alam bersama Sanggar Anak Alam

Bersekolah sebenarnya merupakan suatu kewajiban kita untuk mendapatkan pengetahuan, ilmu, dan belajar secara formal. Belajar pun sebenarnya juga bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja kita mau bahkan dengan model yang seperti apa kita suka. Belajar juga tidak melulu harus duduk tegang, memikirkan banyak teori, terpaku oleh waktu-waktu tertentu tetapi belajar adalah suatu kegiatan yang bebas dilakukan.

Di Yogyakarta, tepatnya di daerah Ngestiharjo, Kasihan, Bantul. Berdirilah sebuah komunitas bernama Sanggar Anak Alam yang bergerak di bidang pendidikan. Sanggar ini pertama kalinya berdiri pada tahun 1988 di Desa Lawen, Banjarnegara. Kemudian pada tahun 2000, Sanggar Anak Alam memulai aktivitasnya di Kampung Nitiprayan, Kasihan, Bantul, sebuah kampung yang terletak diperbatasan antara Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Bantul. Berdirinya Sanggar Anak Alam ini dibantu oleh beberapa relawan agar sanggar ini dapat disesuaikan dengan kondisi di Kampung Nitiprayan. SALAM berdiri untuk mengadakan pendampingan belajar bagi anak-anak usia sekolah. Berbagai kegiatan yang dilakukan di SALAM terdiri dari beberapa program seperti program lingkungan hidup, berternak, mendaur ulang kertas, kegiatan seni dan budaya berupa tetater, musik, dan tari dan berbagai kegiatan lainnya.


SALAM sekarang ini mempunyai sekitar 150 anak didik yang belajar di sana. Biaya yang dikeluarkan dari para anak didik berdasarkan kesepakatan antara orang tua anak didik. Pola pembayaran ini rutin dilakukan setiap bulannya sehingga mereka rutin melakukan rembugan untuk membahas berbagai hal berkaitan dengan pendidikan. Di SALAM, para anak didik didampingi oleh para fasilitator dari luar yang berperan sebagai guru mereka. Anak-anak SALAM didampingi untuk riset sehingga mereka terlatih secara mandiri untuk melakukan pembelajaran dan penelitian di alam. Dengan suasana sekolah yang berada di tengah sawah inilah, anak-anak SALAM benar-benar didekatkan secara langsung dengan alam. Potensi dari setiap murid di SALAM diperdalam oleh para fasilitator, mereka merasa lebih senang, bebas, dan asyik belajar di SALAM.

Beberapa anak didik SALAM mengakui bahwa, bersekolah di SALAM itu sangat mengasyikan, tidak perlu menggunakan seragam sekolah, tidak menggunakan sepatu alias tanpa alas kaki pun diperbolehkan. Bagi mereka, bersekolah di SALAM jauh lebih menyenangkan daripada sekolah formal. Walaupun sekolah ini termasuk sekolah informal, namun sekolah ini juga memberikan pendidikan formal yang mendidik anak-anaknya dari Playgroup hingga SMP. Dalam satu kelas terdapat 15 siswa-siswi yang juga dapat mengikuti ujian kesetaraan seperti sekolah-sekolah formal lainnya sehingga mereka juga mendapatkan ijazah.


Elisabeth Novita Putri

130904859

Saatnya Mengajarkan Anak Berpuasa

Mengajarkan anak-anak untuk berpuasa mungkin menjadi sesuatu yang tidak mudah bagi para orang tua. Puasa juga sebenarnya bukan hal yang wajib di lakukan oleh anak-anak yang belum baligh (belum cukup umur). Namun tak ada salahnya jika para orang tua mulai untuk mengajarkan tentang puasa kepada anak di bulan Ramadhan ini. Momen Ramadhan ini mungkin menjadi waktu yang tepat untuk mengajarkan pendidikan dan akhlak kepada anak-anak. Berawal dari keluarga yang bisa disebut sebagai tempat dimana anak pertama kali belajar mengenal sesuatu. Pendidikan akhlak, perilaku dan karakter merupakan landasan utama yang bisa diajarkan kepada anak-anak sejak dini.

Melatih anak berpuasa bisa dilakukan dengan cara santai dan menyenangkan. Jika dimulai sejak dini maka anak akan terbiasa untuk melakukan ibadah puasa. Sehingga pada saat mereka tumbuh besar nanti mereka tidak akan kaget dan menjadi tekanan dalam hidupnya. Puasa juga memiliki fungsi baik bagi kesehatan dan akan membantu anak di masa yang akan datang.

Mengajarkan anak berpuasa dengan cara menyenangkan akan memberi kemungkinan anak akan lebih santai menjalani puasanya. Orang tua juga harus melihat kondisi anak terlebih dahulu. Pastikan tidak ada unsur paksaan terhadap anak agar anak juga tidak merasa terbebani. Memberikan reward kepada anak memungkinkan anak akan lebih bersemangat misalnya dengan mengatakan bahwa jika berpuasa akan mendapatkan pahala yang banyak. Motivasi dari orang tua ini lah cara pertama yang tepat untuk membangun sikap disiplin melatih anak berpuasa saat Ramadhan.

Untuk anak yang baru pertama kali berpuasa, para orang tua bisa menganjurkan untuk berpuasa setengah hari terlebih dahulu, istilahnya agar mereka tidak kaget. Di hari-hari selanjutnya anak terus dilatih agar bisa puasa sehari penuh. Menurut Hj. Sarmin Wusana Atmadja, berpuasa untuk anak-anak dibawah umur (dibawah 15 tahun) puasa yang dijalani adalah sunnah atau tidak wajib. Menurutnya mengajarkan anak akan syariat Islam sejak dini adalah tindakan yang tepat agar mereka terbiasa ketika dewasa. Hal ini merupakan pengasuhan yang baik dari orang tua ketika mengajarkan anaknya di bawah umur untuk memulai berpuasa. “Sebenarnya dari awal umur 7 tahun juga harus diperintahkan untuk berpuasa” tutur Pak Sarmin.

Anak-anak mungkin akan terlihat lemas pada awal puasanya karena tubuh mereka mengalami penyesuaian terhadap rasa lapar yang dihadapi. Orang tua baiknya membiarkan mereka untuk tidur siang atau mengajaknya untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan. Jangan lupa untuk memberikan kata-kata pujian bagi anak jika mereka berhasil menjalankan ibadah puasanya, karena itu akan mendorongnya untuk lebih baik berpuasa keesokan harinya.

Radhita Nur Annisa

130905168

Kenalkan Cerita Pewayangan Sejak Dini, Investasi Pelestarian Budaya Untuk Masa Depan

Oleh: Elan Priananda (130904957)

IMG_9428

Mengenalkan anak pada kebudayaan merupakan tindakan bijaksana yang dapat dilakukan semenjak dini. Para orangtua memegang peranan penting untuk bisa menjadikan anak memiliki pemikiran tentang bagaimana dia menjadi seorang agen kesenian untuk bisa melestarikan kebudayaan. Sejak kecil seorang anak dapat diberikan cerita yang akan membekas dalam benaknya dan mengakar sehingga dasar keinginannya bisa sangat kuat.

Lampu-lampu menggantung di langit-langit. Joglo sederhana didominasi cahaya berwarna kuning keemasan menciptakan suasana hangat. Jajaran alat musik yang tersusun rapi dimainkan dengan teratur dan menyejukkan hati. Melengkapi seorang bintang cilik yang menyajikan tontonan menakjubkan. Bercerita dengan runtut seolah menyihir para penonton yang hadir.

Layar putih yang dibentangkan menjadi pusat perhatian. Sorotan sinar lampu menciptakan siluet berbentuk tokoh-tokoh yang seolah hidup. Gerakan tangan yang lincah dari Ebenhezer Wahyu Armanto menjadikan penceritaan wayang sangat menajubkan. Tak disangka pada umur yang baru menginjak 11 tahun, dia mampu membuat semua penonton kagum melihat aksinya.

IMG_9436

Cerita yang disampaikan lugas. Sama sekali tak terlihat kerepotan dalam aksinya mengisahkan cerita. Memaksimalkan beberapa wayang yang ditancapkan, mengusai microphone untuk menggelagarkan suaranya, dan tak lupa beberapa kali ketukan dari cempala (pemukul kayu) membunyikan kotak kayu yang ada di samping kirinya. Tak lupa pula nyayian para sinden diiringi kekompakan pemain alat musik karawitan yang memecahkan suasana.

Saat ini, masa kanak-kanak dapat diakatakan menggiurkan dengan segala kecanggihan teknologi yang telah ada. Pola pikir berubah, diikuti pula dengan perilaku yang berubah seiring dengan berkembangnya zaman. Si Pitung, Saras 008, berubah menjadi Iron Man dan Spiderman. Sudah jarang terdengar lagu-lagu Lihat Kebunku, Padamu Negeri, yang sering dinyanyikan justru lagu-lagu Geboy Mujair dan Kucing Garong. Apalagi …gundul-gundul pacul, cul gembelengan. Sudah sangat jarang. Lantas, bagaimana nasib seni pertunjukan dan tembang-tembang tradisional ini?

“BLAS. Aku malah nggak seneng, kalau sama Spiderman” ucap Eben. Di usia mudanya tersebut, ia sudah sangat lugas dalam memainkan wayang. Bagaimana tidak?  Sejak masih berusia 2 tahun, Eben telah dikenalkan dengan seni pertunjukan boneka Jawa ini. Memiliki orangtua yang sudah menyukai dunia wayang dan sering mendongengkan cerita-cerita tradisional menjadi alasan terbesar yang melandasi kesukaan Eben terhadap wayang, khususnya Wayang Kulit.

Berikut kesempatan saya melakukan wawancara dengan Eben bersama Lourentia Kinasih dalam acara pertunjukkan dalang muda di Dinas Kebudayaan Provinsi Yogyakarta.

Dari begitu banyaknya cerita wayang, Eben paling menyukai cerita Jabang Tetuko yang menceritakan tentang kelahiran satu tokoh besar dalam dunia wayang yaitu Gatotkaca. Meskipun begitu, yang menjadi tokoh favorit Eben bukanlah Gatotkaca. Eben jatuh cinta pada tokoh Kapi Menda yang merupakan tokoh kera berkepala kambing yang ada dalam salah satu serial Ramayana. Ia menyukai tokoh ini karena wataknya yang jujur, setia dan sangat patuh.

Sebagai seorang anak yang baru duduk di kelas 5 SD Pangudi Luhur Yogyakarta, prestasi Eben tidak perlu diragukan lagi. Berbagai kompetisi baik tingkat kota ataupun nasional sudah dilahapnya. Ia mengaku bahwa sudah lebih dari sepuluh kali menjuarai perlombaan Dalang Anak. Diantaranya Juara 2 Lomba Dalang Anak Nasional yang diadakan di UNY tahun 2014 dan Juara 3 Lomba PEPADI (Persatuan Pedalangan Indonesia) di tahun yang sama, juara 2 Festival Dalang Anak dan Remaja di Tembi pada tahun 2015, hingga ikut serta dalam Pentas Etika Budaya. Eben sudah sering pentas dan menjadi dalang baik di dalam maupun luar kota Yogyakarta, seperti Gunung Kidul dan Sragen. Bahkan Eben pernah berpartisipasi dalam salah satu acara televisi Si Bolang.

Anak-anak tentu banyak melakukan hal yang merupakan hasil didikan dan memberikan pemahaman lebih. Kunci keberhasilan tentu dipegang oleh orang tua. Sosok seorang Eben tentu dapat memberikan banyak inspirasi bagi anak-anak lain dan juga menjadi bukti bagi orangtua bahwa pendidikan bagi anak merupakan tanggungjawab orangtua.

 

 

Bioskop Kecil untuk Anak-anak

Sebuah Sticky Notes ditempelkan ke papan yang ada di perpustakaan SD Tumbuh, Jetis. Sticky Notes tersebut bertuliskan mengenai kegiatan Bioscil pada 19 November 2015 (Foto: Agatha Pascal)

Sebuah Sticky Notes ditempelkan ke papan yang ada di perpustakaan SD Tumbuh, Jetis. Sticky Notes tersebut bertuliskan mengenai kegiatan Bioscil pada 19 November 2015 (Foto: Agatha Pascal)

Bioskop Kecil (Bioscil), merupakan sebuah wadah untuk menonton film yang ditujukan kepada anak-anak usia SD hingga SMP. Berangkat dari keprihatinan mengenai sedikitnya penonton anak dalam festival-festival film, Rifqi Mansyur Maya (Kiki) dan Hindra Setya Rini (Hindra) mencetuskan ide untuk membuat Bioscil. “Kami jarang menemukan penonton anak-anak di festival film yang memutarkan film anak. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari” tutur Kiki (28). Film-film yang biasanya diputarkan dalam Bioscil adalah film anak yang diproduksi oleh sineas-sineas Indonesia. Bioscil yang sudah berjalan semenjak akhir tahun 2011 ini, masih berjalan hingga saat ini dan memiliki banyak panggilan untuk memutarkan film-filmnya diberbagai tempat di Yogyakarta dan sekitarnya.

Saat ini Bioscil sedang vakum dari kegiatannya. Salah satu tempat yang pernah didatangi Bioscil adalah SD Tumbuh, Jetis, pada tanggal 19 November 2015. Acara menonton film dimulai pukul 10.30 WIB dengan film pertama yang berjudul “Say Hello to Yellow”. Tidak semua siswa mengikuti Bioscil namun, saat di SD Tumbuh hanya siswa-siswi kelas 5 dan 6 saja yang ikut menonton film. Perpustakaan yang tidak terlalu luas, penuh dengan siswa-siswi kelas 5 dan 6 yang penasaran dan antusias untuk menonton film. Ketika film sudah diputar semua siswa-siswi menonton dengan serius, terkadang mereka juga tertawa jika ada adegan-adegan yang menurut mereka lucu di dalam film. Tidak hanya menonton film, ketika jeda pergantian film yang akan diputar, ada game-game yang dibuat  berdasarkan film yang sebelumnya baru saja ditonton. Tentunya jika ada yang berani dan mau mengikuti games akan ada pengharhaan atau hadiah tersendiri yang diberikan. Biasanya hadiah berupa kaos atau tas yang diberikan setelah ada yang mau maju kedepan bercerita tentang film yang sebelumnya diputar atau menjawab pertanyaan tentang film yang sudah diputarkan. Saat di SD tumbuh salah seorang siswi berani maju kedepan untuk menceritakan inti cerita dari film “Say Hello to Yellow”.

Kiki sedang memberikan penjelasan singkat mengenai film yang akan ditonton kepada siswa-siswi SD Tumbuh, Jetis. (19/11/2015) (Foto: Agatha Pascal)

Kiki sedang memberikan penjelasan singkat mengenai film yang akan ditonton kepada siswa-siswi SD Tumbuh, Jetis. (19/11/2015) (Foto: Agatha Pascal)

Selain film “Say Hello to Yellow” selanjutnya diputarkan film berjudul “Gazebo”. Siswa-siswi yang sudah mulai saling mengobrol sendiri ketika games lalu hening dan kembali serius ketika film “Gazebo” diputarkan. Selama pemutaran film ada beberapa siswa-siswi diluar kelas 5 dan 6 yang ikut masuk kedalam perpustakaan dan ikut menonton film dengan antusias. Film-film yang diputarkan adalah film anak yang memiliki pesan dan moral didalamnya dimana penyampaian pesan juga dipertegas kembali ketika satu film sudah selesai diputarkkan.

Film yang diputarkan Bioscil ini tidak selalu diputar pada SD atau SMP maupun tempat tertutup seperti ketika di SD Tumbuh. Segmentasi umur yang dituju memang usia SD dan SMP namun tidak selalu pemutaran film dilakukan di sekolah formal. Pemutaran film bisa juga dilakukan diluar ruangan tergantung pada kapasitas dan kemampuan dari tempat yang mengundang Bioscil untuk memutarkan filmnya. Sementara ini seluruh dana operasional masih ditanggung sendiri oleh para pencetusnya, namun untuk alat-alat pendukung seperti proyektor dan layar pemutaran di dapatkan melalui peminjaman dari komunitas ataupun pihak-pihak yang tertarik serta mendukung adanya Bioscil. Film yang diputarkan juga film yang diperoleh dari hasil kerjasama Bioscil dengan agen-agen film seperti Limaenamfilm dan Sanggar Cantrik.

Bioscil #7: Bumper

Oleh: Agatha Pascal/ 130904943