Bioskop Kecil untuk Anak-anak

Sebuah Sticky Notes ditempelkan ke papan yang ada di perpustakaan SD Tumbuh, Jetis. Sticky Notes tersebut bertuliskan mengenai kegiatan Bioscil pada 19 November 2015 (Foto: Agatha Pascal)

Sebuah Sticky Notes ditempelkan ke papan yang ada di perpustakaan SD Tumbuh, Jetis. Sticky Notes tersebut bertuliskan mengenai kegiatan Bioscil pada 19 November 2015 (Foto: Agatha Pascal)

Bioskop Kecil (Bioscil), merupakan sebuah wadah untuk menonton film yang ditujukan kepada anak-anak usia SD hingga SMP. Berangkat dari keprihatinan mengenai sedikitnya penonton anak dalam festival-festival film, Rifqi Mansyur Maya (Kiki) dan Hindra Setya Rini (Hindra) mencetuskan ide untuk membuat Bioscil. “Kami jarang menemukan penonton anak-anak di festival film yang memutarkan film anak. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari” tutur Kiki (28). Film-film yang biasanya diputarkan dalam Bioscil adalah film anak yang diproduksi oleh sineas-sineas Indonesia. Bioscil yang sudah berjalan semenjak akhir tahun 2011 ini, masih berjalan hingga saat ini dan memiliki banyak panggilan untuk memutarkan film-filmnya diberbagai tempat di Yogyakarta dan sekitarnya.

Saat ini Bioscil sedang vakum dari kegiatannya. Salah satu tempat yang pernah didatangi Bioscil adalah SD Tumbuh, Jetis, pada tanggal 19 November 2015. Acara menonton film dimulai pukul 10.30 WIB dengan film pertama yang berjudul “Say Hello to Yellow”. Tidak semua siswa mengikuti Bioscil namun, saat di SD Tumbuh hanya siswa-siswi kelas 5 dan 6 saja yang ikut menonton film. Perpustakaan yang tidak terlalu luas, penuh dengan siswa-siswi kelas 5 dan 6 yang penasaran dan antusias untuk menonton film. Ketika film sudah diputar semua siswa-siswi menonton dengan serius, terkadang mereka juga tertawa jika ada adegan-adegan yang menurut mereka lucu di dalam film. Tidak hanya menonton film, ketika jeda pergantian film yang akan diputar, ada game-game yang dibuat  berdasarkan film yang sebelumnya baru saja ditonton. Tentunya jika ada yang berani dan mau mengikuti games akan ada pengharhaan atau hadiah tersendiri yang diberikan. Biasanya hadiah berupa kaos atau tas yang diberikan setelah ada yang mau maju kedepan bercerita tentang film yang sebelumnya diputar atau menjawab pertanyaan tentang film yang sudah diputarkan. Saat di SD tumbuh salah seorang siswi berani maju kedepan untuk menceritakan inti cerita dari film “Say Hello to Yellow”.

Kiki sedang memberikan penjelasan singkat mengenai film yang akan ditonton kepada siswa-siswi SD Tumbuh, Jetis. (19/11/2015) (Foto: Agatha Pascal)

Kiki sedang memberikan penjelasan singkat mengenai film yang akan ditonton kepada siswa-siswi SD Tumbuh, Jetis. (19/11/2015) (Foto: Agatha Pascal)

Selain film “Say Hello to Yellow” selanjutnya diputarkan film berjudul “Gazebo”. Siswa-siswi yang sudah mulai saling mengobrol sendiri ketika games lalu hening dan kembali serius ketika film “Gazebo” diputarkan. Selama pemutaran film ada beberapa siswa-siswi diluar kelas 5 dan 6 yang ikut masuk kedalam perpustakaan dan ikut menonton film dengan antusias. Film-film yang diputarkan adalah film anak yang memiliki pesan dan moral didalamnya dimana penyampaian pesan juga dipertegas kembali ketika satu film sudah selesai diputarkkan.

Film yang diputarkan Bioscil ini tidak selalu diputar pada SD atau SMP maupun tempat tertutup seperti ketika di SD Tumbuh. Segmentasi umur yang dituju memang usia SD dan SMP namun tidak selalu pemutaran film dilakukan di sekolah formal. Pemutaran film bisa juga dilakukan diluar ruangan tergantung pada kapasitas dan kemampuan dari tempat yang mengundang Bioscil untuk memutarkan filmnya. Sementara ini seluruh dana operasional masih ditanggung sendiri oleh para pencetusnya, namun untuk alat-alat pendukung seperti proyektor dan layar pemutaran di dapatkan melalui peminjaman dari komunitas ataupun pihak-pihak yang tertarik serta mendukung adanya Bioscil. Film yang diputarkan juga film yang diperoleh dari hasil kerjasama Bioscil dengan agen-agen film seperti Limaenamfilm dan Sanggar Cantrik.

Bioscil #7: Bumper

Oleh: Agatha Pascal/ 130904943

Advertisements

Lotek Teteg Baciro, Kuliner Legendaris Yogyakarta

Aditya Mahaprajnya 110904542

 

lintas.meCobek jumbo yang digunakan untuk meracik bumbu (foto via lintas.me)

 

Yogyakarta terkenal dengan beragam kulinernya yang lezat. Di sebelah timur stasiun kereta api Lempuyangan, tepatnya di Jalan Argolubang 184 Gang Delima GK. IV/ 196, Baciro, terdapat warung makan legendaris bernama warung Lotek Teteg. Lotek adalah makanan berupa sayuran seperti bayam, tauge, kacang panjang, kol, yang direbus kemudian disiram bumbu kacang dan ditaburi kerupuk serta bawang goreng. Teteg sendiri merupakan bahasa Jawa yang berarti palang pintu kereta api.

Warung ini pertama kali dibuka pada tahun 1968 oleh Bapak Untung. Pada awal berdirinya, warung ini hanya dikelola oleh pihak keluarga saja. Seiring berjalannya waktu warung ini terus berkembang dan kini warung Lotek Teteg memiliki beberapa karyawan untuk memudahkan pelayanan terhadap konsumen. Saat ini warung Lotek Teteg dikelola oleh Upi Nuraini, anak dari Bapak Untung.

Selain karena eksistensi warungnya yang sudah berjalan lebih dari empat puluh tahun, ciri khas unik dari warung lotek ini adalah pemakaian cobek berukuran jumbo dengan diameter sekitar delapan puluh centimeter. Sulit untuk menemukan cobek dengan ukuran tersebut karena ini merupakan pesanan khusus dari sang pemilik. Pemakaian cobek jumbo itu bertujuan agar dalam pembuatan bumbu kacang pada saat ramai pengunjung bisa dalam porsi besar sekaligus, sehingga para pelanggan tidak terlalu lama menunggu. Sekali meracik di cobek, bumbunya dapat digunakan untuk tujuh puluh porsi lotek.

Pengunjung warung ini terdiri dari beragam kalangan: dari mahasiswa hingga pensiunan pegawai negeri. Tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam, karena harga satu porsi lotek hanya Rp10 ribu rupiah saja. Tak hanya lotek, warung ini juga menyediakan menu gado-gado dan aneka minuman seperti jus buah atau pun teh. Rata-rata minuman dibanderol mulai dari Rp2 ribu sampai dengan Rp11 ribu.

Suasana semakin asyik karena anda juga akan ditemani oleh alunan musik dari sebuah grup yang kerap tampil di warung ini.

Warung ini buka setiap hari mulai pukul 09.00 WIB sampai dengan Pukul 16.30 WIB.

 

map lotek tetegPeta lokasi warung Lotek Teteg

 

Wisata Malam Bersama Keluarga di Taman Pelangi

Berwisata di malam hari bukanlah hal yang sulit di Yogyakarta. Banyak tempat di Yogyakarta yang dapat dikunjungi pada malam hari seperti wisata sepeda di alun-alun selatan dan masih banyak lagi. Walaupun bukan sesuatu yang sangat baru di Jogja, namun ini adalah pertama kali penulis mengunjungi tempat wisata keluarga Taman Pelangi yang terletak di kompleks Monumen Jogja Kembali. Continue reading