DAC; Menilik Bagaimana Para Tuli Berekspresi

Oleh: Ammyta Pradita (100904062)

Tak ada yang istimewa dari bangunan rumah yang sudah cukup tua itu. Cat yang mengelupas di sana-sini dan kebun yang tidak terlalu terawat, bahkan, tak ada suara yang menunjukkan adanya tanda-tanda kehidupan. Sejenak ragu menyelimuti, yakin, tempat ini yang dicari? Sebuah tempat yang kabarnya menjadi rumah kedua bagi para penyandang tunarungu di Yogyakarta. Ketika melihat ada orang yang hendak keluar, akhirnya saya menghampiri dan bertanya, “Apakah benar ini adalah markas besar DAC (Deaf Art Community) ?” . Ia tak menjawab, dengan ekspresi wajah yang kebingungan. Dia memilih untuk kembali masuk ke dalam, kemudian kembali ke depan pintu bersama seseorang.

“Maaf mbak, mereka tuli dan bisu. Saya Kiki, volunteer di sini. Ada yang bisa saya bantu?” tanya perempuan bertubuh mungil itu.

Setelah mengungkapkan tujuan saya, ia menjelaskan, “Maaf, kelas bahasa isyarat sore ini ditiadakan. Tapi, anak-anak sedang membuat gantungan kunci dari kain flanel untuk pesanan dari Yayasan Kanker Indonesia. Mbak tertarik untuk melihat? Mari masuk ke dalam”.

Proses pembuatan gantungan kunci kain flanel

Proses pembuatan gantungan kunci kain flanel

Sepintas tak ada yang berbeda dari enam orang yang sedang menjahit di ruang tengah rumah tersebut. Mbak Kiki, mengenalkan saya pada mereka semua. Agak kagok awalnya, karena harus membentuk rangkaian huruf dalam bahasa isyarat agar mereka mengerti siapa nama saya. Ternyata, mereka cukup terbuka untuk menerima kehadiran orang baru dan ramah, meski komunikasi di antara kami masih belum terlalu lancar. Kadang, saya harus memelankan tempo bicara, agar mereka bisa membaca gerak mulut saya. Begitu pula dengan mereka, yang turut memelankan gerak tangannya, agar saya bisa membaca,huruf atau kata apa yang mereka ingin sampaikan. Melihat saya kebingungan dan memilih berdiam diri, salah seorang dari mereka, yang kemudian saya ketahui bernama Dela, mengajari saya untuk menyusun manik-manik di atas kain flanel berbentuk hati. Rangkaian manik-manik itu dibentuk huruf, DAC dan ILU (I Love You).

Ada beberapa foto yang dipajang di rumah itu, rata-rata adalah dokumentasi mereka ketika sedang melakukan pementasan tari dan teater. Selang lima belas menit, saya melihat sesosok pria tambun masuk ke dalam rumah dan menyapa anak-anak. Rupanya, ia adalah Broto Wijayanto, pendiri komunitas ini. Saya berpamitan dengan Dela untuk menemui Pak Broto. Pembawaan beliau yang cukup ramah dan suka melucu membuat saya lebih luwes untuk menanyakan beberapa hal terkait DAC.

“Semua berawal dari tekad para tunarungu untuk mengembangkan diri agar bisa dianggap sama oleh masyarakat umum, salah satu cara yang paling mudah adalah melalui seni” , tutur pria yang lebih akrab dipanggil Babe ini.

Babe adalah seorang seniman yang tahun 2004 lalu diajak bergabung dengan komunitas ilegal Matahariku Social Voluntary, sebuah komunitas yang diprakarsai oleh mahasiswa-mahasiswi Psikologi UGM. Ia dimintai tolong untuk mengajarkan beraneka kesenian bagi para tunarungu, termasuk membantu mereka menyiapkan pementasan bertajuk A Letter to God, yang merupakan konser tunggal tunarungu pertama di Indonesia. Sering berjalannya waktu, komunitas ini berganti nama menjadi DAC (Deaf Art Community), dan benar-benar terlepas dari komunitas sebelumnya. Kali itu, DAC memutuskan untuk fokus bergerak di bidang seni bagi anak-anak tunarungu, melalui pelatihan berbagai keterampilan seni dan menerima tawaran pentas, entah menari atau teater dalam beberapa event. DAC didukung penuh oleh komunitas BEJO (Beatbox of Jogja) yang memploklamirkan diri sebagai sudara tua DAC dan selalu menemani pentas anak-anak DAC.

“Pada dasarnya, DAC adalah suatu komunitas yang dibentuk dengan harapan menjadi sarana belajar, berkreasi, bekerja dan bersinergi antara deaf (tunarungu) maupun hearing person (non-tunarungu). Karena kami menyadari, bahasa adalah hal terpenting yang menentukan keberhasilan proses komunikasi, padahal mereka (tunarungu) tidak bisa berbahasa seperti orang lain kebanyakan” .

Hal tersebut didasari dari realita sosial di mana para tunarungu masih mendapatkan diskriminasi dari masyarakat dalam bidang pendidikan dan lapangan kerja, sehingga menjadi layak bagi mereka untuk mengembangkan diri agar bisa dianggap sejajar dengan masyarakat kebanyakan yang non-tunarungu. Maka dari itu, komunitas DAC menggunakan metode bahasa isyarat untuk saling berkomunikasi.

“Jangan salah, yang mengajar kelas bahasa isyarat ya mereka sendiri, para tunarungu. Sedangkan pesertanya adalah masyarakat umum, yang tertarik untuk mempelajari bahasa isyarat agar jurang komunikasi bisa terjembatani”.

Disinggung mengenai dana yang mendanai kehidupan komunitas ini, Babe menjawab secara diplomatis, “Semua dana berasal dari Tuhan”. Tidak ada iuran yang harus dibayar oleh para anggota dan tidak ada donatur tetap. Dana yang ada, kebanyakan berasal dari kontrak kerja sama ketika anak-anak pentas dan sebagian berasal dari keuntungan menjajakan merchandise berupa kaos, lukisan dan aneka kerajinan tangan yang diproduksi dengan label Deaf Product. Tetapi, dengan pengelolaan yang cukup baik, sampai saat ini dana yang ada mencukupi kehidupan komunitas kecil yang memiliki anggota tetap sebanyak 20 orang.

Sedangkan bagi Gita Meina, salah seorang volunteer yang sudah bergabung dengan DAC sejak tahun 2011, berada di tenah-tengah mereka yang tunarungu membuatnya lebih mensyukuri anugerah dengan lengkap dan berfungsi dengan baiknya panca indera yang dimiliki. Meski awalnya, ia merasa kesulitan untuk berkomunikasi dan membuat para tunarungu bisa memahami istilah-istilah yang cukup sulit, seperti istilah politik dan sosial. “Kami tidak hanya ingin mereka sekadar tahu, tapi juga bisa paham apa yang mereka baca, lihat dan dengar dari masyarakat. Itulah tantangan kami” .

Bagi Gita dan Babe, mengembangkan komunitas ini dengan susah payah membuat mereka merasa sayang jika suatu saat harus melepaskan diri dari komunitas. “Memang, harapan kami adalah para tunarungu yang tergabung dalam komunitas ini menjadi mandiri. Namun, itu juga berarti suatu saat nanti kami bisa diusir dan mereka yang pergi dari kami. Meski, memang kami menerapkan asas kekeluargaan dan membuka pintu bagi siapa saja yang mau bergabung” , tutup pria bertubuh gempal ini.

Arief menyampaikan alasan kenapa bergabung dengan DAC

Arief menyampaikan alasan kenapa bergabung dengan DAC

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s